Bel tanda masuk sekolah sebentar lagi akan berbunyi, namun masih saja banyak siswa yang melenggang dengan tenang memasuki gerbang sekolah yang megah itu. Beberapa diantaranya lebih peduli kepada penampilan ketimbang satpam sekolah itu, pak Makmun, yang sudah memasang setelan muka masamnya. Sementara barisan antrian mobil-mobil-- yang sebagian besar masuk kategori mobil mewah itu--berjalan lambat, macet, dan para tuan dan nona muda itu tampaknya masih terlalu santai dan enggan untuk keluar dari mobil-mobil itu.
Di ujung utara gedung bertingkat empat ini, ada parking lot khusus untuk siswa yang membawa mobil ke sekolah. Lagi-lagi didominasi mobil-mobil sekelas BMW, Mercy, Audi, Jaguar, New CRV, Serena High Star, Alphard, Harrier, Odyssey, Camry, dan bahkan ada juga yang bawa mobil 'langka' saking mewahnya, kayak Range Rover Vogue atau Maseratti. Hah? Itu parking lot sekolah atau show room mobil impor?
Namun begitulah kenyataan yang ada di sekolah mewah satu ini. Terletak di bilangan Jakarta Selatan, memasuki sebuah kompleks perumahan sangat mewah, sekolah ini tampaknya dikhususkan menampung siswa-siswa yang memenuhi minimal satu dari tiga kriteria berikut:
1. Pintar banget
2. Kaya banget
3. Ngetop banget. Nah, yang ini golongan 'peak-too-sooner' atau 'social-climber', kayaknya bisa masuk sini jugaJ.
Seorang remaja putri dengan dandanan normal seperti layaknya anak SMA kebanyakan, rambut sebahu yang dipotong model pixie-nya mbak Katie Holmes, dengan kemeja putih dan rok kotak-kotak hijau, tanpa aksesori menyolok, kecuali sebuah jam tangan Guess dan postman bag berukuran sedang, serta sebuah tas berisi netbook, keluar dari mobil Chevy Sparks warna pink-nya. Tak lupa ia menekan key remote sebelum beranjak jauh dari mobilnya.
Sementara di belakangnya sedikit, seorang cowok, anak SMA itu juga, mendecak kesal karena range Rover Vogue-nya nggak bisa parker di tempat biasa. Ada 'kecoak' yang tiba-tiba nyempil di tempat favoritnya. Kecoak pink berjenis Chevy Spark nggak asik! Cowok berwajah mirip Ariel Peterpan itu memukul setirnya kesal. Haduh, mana sudah mau masuk gini, nggak dapat parker pula! Heran deh, emangnya pengemudi mobil kecoak ini nggak tau apa dia sudah langganan markir di sini? Cowok itu menyumpah-nyumpah nggak keruan.
Jengkel, cowok itu tiba-tiba mendapatkan bohlam di atas kepalanya menyala terang, terlalu terang, bahkan.
Dengan gerakan seorang pembalap andalan, ia sengaja memarkir tepat di depan mobil kecil itu. Paralel dengan jarak yang amat tipis. Beruntung, di sebelah si pink itu hanya ada mobil ambulans milik sekolah. Gegas ia menarik rem tangan dan buru-buru keluar dari mobil gagahnya sambil menekan key remote. Hehehe, rasain lu, gak bisa keluar baru rasa! Siapa suruh mobil jelek beda kasta begini diparkir di sini? Cowok itu bersiul senang.
Suasana kelas XI IPA 1 tampak riuh ketika Miss Olga mengumumkan susunan tempat duduk. Banyak diantara mereka yang tidak terima keputusan Miss Olga, sang wali kelas, untuk memasang-masangkan laki-laki dengan perempuan. Beberapa aktivis Rohis bahkan protes keras. Tai nampaknya Miss Olga adalah fans setia pepatah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Jadi dia cuek saja tuh, mengumumkan ide cemerlangnya itu.
"Wanda Syarif dengan Raditya Ramelan..."
Seorang gadis cantik berjilbab panjang manyun. Sementara seorang cowok berambut crew cut menempati bangku di sisinya takut-takut.
"Afwan, Ukhti..." bisik si cowok lirih dan takut.
Si ukhti tetap cemberut dan langsung memajang oversized daypack warna abu-abu dengan gantungan monyet berbulu tebal sebagai pembatas antara mereka.
Aksi ini jelas mengundang tertawaan seisi kelas. Miss Olga malah sampai harus menutup mulutnya dengan tissue.
"Kenapa kamu memajang monyetmu diantara kursimu dan kursi Radit, Wanda?" Tanya Miss Olga, sok tegas.
"Karena... karena..." Wanda tampak susah sekali mengungkapkan alasannya.
"Oh... nggak apa-apa, miss. Saya lebih baik ngeliatin monyet ini daripada menatap teman sebangku saya ini..." potong Radit dengan wajah sama pusingnya.
Di barisan belakang, si cewek pixie tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Wanda, memberi support. Wanda memang salah satu BFF-nya sejak kelas satu. Ada yang haree genee gak tau BFF? BFF itu artinya best friend forever, jelas? Jadi nanti jangan ada lagi yang Tanya arti BFF di comment status facebook saya yaJ.
"Nyantai, Nda," bisik si pixie dengan senyum tertahannya.
"Belah mana nyantai? Dia kan ketua Rohis, aku Kaputnya. Apa kata dunia?" rajuk Wanda lirih.
Sayangnya itu cukup terdengar di telinga Radit, di sebelahnya. "Besok, saya bawa kain hijab juga gak apa-apa, Ukhti," ujar Radit.
"Berisik! Mana ada ketua Rohis ngupingin omongan kaputnya?" sentak Wanda sadis. Si pixie ngikik tertahan.
"Kamu. Aku doakan kamu sebangku sama si Pangeran Es ya?" ujar Wanda kepada si pixie, mematikan. Efeknya si pixie jadi pucat dan panic.
"Please deh, Nda, doamu suka makbul gituloh. Jangan dooong..."
"Khairani Prawiraningrat dengan Ronan Lukito," kembali Miss Olga mengumumkan pasangan berikutnya.
"APA?"
"Tuh kan, bener kataku..."
"Whoaaaa..."
"Ada apa, Aira?"
Si pixie, yang ternyata bernama Aira, tergeragap seketika. Aduh, kenapa dengan dia? Musuh bebuyutan dari kelas sepuluh!
Aira menggeleng lemah. Mukanya ditekuk delapan, sementara separuh populasi cewek di kelas itu memekik iri. Kok bisa ya, Aira yang biasa banget itu dapat teman sebangku manusia seganteng dan se-cool Ronan?
Dasar Aira juga orangnya pede. Dia membalas sekilas tatapan mematikan itu dengan tatapan; silakan-ambil-dan-bungkus-itu-si-Ronan-yang-mana-gue-beneran-serius-gak-butuh!
"Hai, Aira," sapa si Ice prince, yang tiba-tiba sudah ada di sisi Aira. Hih, mendadak Aira merasakan tubuhnya menggigil.Padahal, ia sudah melapisi seragamnya dengan cardigan warna pink lho.
"Oh, hai."
"Kita ketemu lagi ya? Langsung dipasangkan di hari pertama pula."
"Don't care, please."
"Nanti juga kita bersaing lagi, kan? Pemilihan President of Student Club, remember?"
"Hmm..."
"Ready to paint the town red if you win the battle?"
Hah? Battle? Lu kata mortal combat?
"Kamu kali. Aku nggak ambisi tuh."
"Geng katro-mu itu iya banget!"
"Sekali lagi nyebut clique aku katro, gue bunuh lu!"
Cowok itu hanya melengkungkan senyum sinis di bibirnya. Aira membalasnya dengan tak kalah sinis. Kayak gini kok digelari the hottest boy in school of the year? Belah mananya sih yang katanya 'charming' itu? Jempolnya aja segede pukulan kasti. Huh! Aira bergidik membayangkan hari-harinya ke depan yang akan terasa seperti di neraka. Mana ya, katanya orang bilang masa di SMA itu adalah masa paling indah? Masa paling indah mbahmu!
Bete, Aira mengeluarkan sekaligus iPod dan Blackberry-nya.perlu diketahui bahwa ini semua bekas alias second, lungsuran dari sang papa, padahal ini larangan keras lho, kalau ketahuan. Ronan di sebelahnya, tanpa sadar memanjang-manjangkan lehernya.
"Ini bukan di Coffee Bean kali," celetukan Ronan terdengar sangat sinis, dan... dingin. As usual.
"Bukan urusan kamu!"
Cuek Aira memasangkan earphone di telinganya, dia tutupi dengan menaikkan sedikit cardigannya ke leher. Terdengar lagu-lagu Sarah Brightman segera.
Di depannya, Wanda dan Radit juga tampak belum bisa berdamai.
Sementara, sekilas Ronan sempat melihat Aira membuka album di BlackBerry-nya. Mata Ronan memicing melihat salah satu pose gadis itu dengan... si kecoak pink jijay! Ada seringai di wajah ganteng Ronan saat itu.
Sebenarnya sih, Aira sering merasa ia kelewat membenci Ronan. Bukan apa-apa, anak itu terlalu sok cool di matanya. Nggak pernah ngomong sama cewek kalau nggak ditanya. Padahal anak Rohis juga bukan, kali. Masih mending si Radit deh. Bagian yang paling menyebalkan, Ronan itu sinisnya minta ampun sama dia.
Hal itu agaknya dipicu suasana persaingan mereka untuk jadi juara umum waktu kelas sepuluh tahun ajaran lalu. Sama-sama pintar dan aktif. Hanya yang satu banyak teman, yang satu agak-agak dark gitu. Radit mencemooh kemampuan fisika Aira yang agak lemah, sementara Aira mencela kemampuan Ronan dalam social studies yang kacau.
Ronan benci kepada geng Aira yang dia anggap geng cewek berisik dan sok cakep. Padahal, jelas-jelas geng itu nggak semuanya berisi anak-anak orang berada, contihnya ya si Aira itu. Bahkan dengan sadis, Ronan menggelari Aira dengan sebutan 'Socialite wannabee', menyakitkan bukan?
Aira benci kepada sikap Ronan yang selalu meremehkan kemampuannya. Juga cenderung sadis.
Ia ingat betul, waktu kelas sepuluh, Aira digencet oleh beberapa seniornya. Cewek semua gituloh. Waktu itu, Aira disekap di kamar mandi dan dipaksa mengaku kalau ia punya hubungan istimewa dengan Kak Rudy, President Student Club.
Padahal, boro-boro punya hubungan, kenal aja kagak. Tapi biasalah, namanya juga senior, nggak boleh lihat ada junior yang lebih keren, pasti sirik dot com dong?
Jelas saja Aira nggak mau mengaku. Dia nyaris ditampar, tapi dia keburu menjerit. Tepat saat itu Ronan melintas mau ke kamar mandi cowok yang letaknya berseberangan dengan kamar mandi cewek. Mendengar ada suara jeritan, tanpa piker panjang Ronan mendobrak pintu. Di sana dia mendapati Aira nyaris tak berdaya dikerubuti lima cewek kelas dua belas.
"Ada apa, kak? Kenapa dia?" Tanya Ronan kepada cewek-cewek berwajah gahar itu.
"Ini cewek tengil banget. Baru kunyil kayak lu, udah pacaran sama Rudy!" ujar Evi, sang leader.
Melihat tanda-tanda sebentar lagi Aira bakal nangis gegerukan dilanjutkan pingsan (soalnya mukanya udah pucat), Ronan segera bertindak."Wah, nggak mungkin, kak. Dia pacar saya. Kami udah ditunangkan sejak SMP".
Kontan yang Mulia Para Senorita itu bengong semua. Gini hari? Tunangan? Wakwaw... enggak banget deeeh!
Hasilnya, Aira memang dibebaskan. Tapi tahu apa kata Ronan setelah itu?
"Makanya jadi cewek jangan kegatelan deh. Masih kunyil aja udah mau flirting sama pejabat!"
Mau marraaahhh banget kan?
Maka, setelah itu, dimana gossip berhembus tentang 'pertunangan nggak penting dan nggak banget' itu di seantero sekolahan, Aira langsung memaki-maki Ronan di tengah lapangan, waktu itu Ronan baru datang dan suasana sekolah lagi full rame. Jadilah mereka tontonan semua umat, dan Ronan maluuu banget. Hahaha, kayak lovers' quarrel ajaJ.
Sejak saat itu keduanya resmi bermusuhan dan selalu saling berhadapan dengan nafsu membunuh yang besar. Bahkan hingga sebelum kenaikan kelas, mereka dimajukan sebagai calon President Student Club. Sebenarnya sih, yang sangat berambisi yaitu orang-orang di belakang mereka.
Misalnya saja Clique-nya Aira, ada Wanda, Rena, Kirana, dan Dina (sang ketua). Sementara di pihak Ronan ada Radit, Emil, Wawan, dan Edu. Saat kampanye pun, kedua geng yang sibuk berperang. Ya, Ronan dan Aira nya juga sih. Tapi nggak seheboh geng mereka ini. Perang spanduk, perang kata-kata, hingga perang di facebook masing-masing.
Kembali ke kelas.
Sementara Miss Olga sudah sibuk menerangkan Kimia, anak-anak masih sibuk menggoda--diam-diam--kedua pasangan aneh itu: Wanda dan Radit, serta Aira dan Ronan. Yang digodain jelas pada bete.
"Heh, kamu jangan GR ya? Tunggu puncak pemilihan suara besok!" desis Ronan ke arah Aira.
Aira hanya menoleh sebentar, lalu memutar matanya. Tak peduli.
Ada yang tak diketahui Aira, ketika jam istirahat, Ronan tersenyum puas di parking lot.
Yang jelas, saat pulang sekolah, Aira merasa dirinya mendadak jantunga. Ban si pinky tiba-tiba kempes, dan ada Range Rover Vogue segede pabrik Krakatau Steel menclok pas di depan mobilnya.
Ia langsung tahu siapa pemilik range Rover itu. Tak kurang akal, ia berlari mengambil gerobak besi tempat sampah milik Pak Ujo, penjaga kebun. Dengan sadis ditabrak-tabrakkannya gerobak butut itu ke bumper si Vogue. Teman-temannya gak ada yang tahu karena kebetulan, parker mobil mereka agak jauh dan tersembunyi.
Sukses! Si Vogue baret sedikit!
Aira bertepuk tangan senang. Dengan riang, dia berlari menuju Kijang Innova Wanda., dimana Wanda sudah siap mau pulang bareng supirnya. Beres. Aira nebeng Wanda pulang. Tatapan penuh selidik dafri wanda yang curiga sama sekali tak ia pedulikan. Nanti sorenya baru deh dia ambil si pinky bareng kakaknya. Cerdas, bukan?
Airaaa...
Sambil menegakkan kepalanya, Aira tersenyum. Ia telah kembali turun gelanggang. Dengan kesadaran penuh, ia telah merentang busur dan mengokang senjata perangnya melawan Ronan, cowok yang kalau perlu, ia benci seumur hidup dan matinya. Cowok nggak guna dan nggak penting, yang telah dengan semena-mena merampas kesempatannya untuk menjadi juara umum tahun ajaran lalu, di mana dia harus puas ada di ranking dua. Dan kali ini, dia akan sekuat tenaga mempertahankan dirinya dari ancaman kekalahan dirinya. Cowok sok dark yang menang fans doang itu harus dia beri pelajaran, bahwa dia bukan The Plain Aira yang bisa seenaknya saja dipandang sebelah mata.
Hati Aira perih mengingat sudah terlalu sering Ronan mengatainya sebagai socialite wannabee atau golongan kasta paria. Kurang ajar banget!
Pulang sekolah, Aira segera menyibukkan diri dengan persiapan mobilisasi pemilih untuk pemilu raya-nya Excellent International School besok. The big election day!
Tanpa dia sadari, di parking lot, Ronan bahkan sudah berlaku jauh dari yang Aira bayangkan. Dendam memang tak akan pernah selesai. Kalau bisa selama hayat masih dikandung badan, api dendam tak akan pernah padam.
Sore itu, seorang gadis cantik bermata bintang dan bercapuchon baby blue menangis sesenggrukan di samping si pinky yang keempat bannya kemps semua! Sementara di sampingnya, Erina, sang kakak menyumpah-nyumpah kesal.
Peperangan baru saja dimulai(lagi), jadi bersiaplah, Aira….
WELCOME IN MY BLOG...
Kamis, 27 Agustus 2009
I’m not katro, anyway… (serial exist 2)
Pagi hari Yang Bergairah di Exist
Sumpah, ini adalah sekolah paling funky di dunia. Baru hari kedua saja, sekolah sudah mengadakan pesta demokrasi, alias pemilihan ketua OSIS yang mereka sebut President of Student Club. Sementara sekolah lain masih sibuk dengan MOS dan apapun namanya itu. Di Exist, MOS alias Welcoming the Preppy baru akan diadakan seminggu lagi. Kapan belajarnya ya? Ah, namanya juga sekolah unggulan, dimana anak-anaknya sebagian besar punya otak sederajat sama Habibie, Bill Gates, Einstein, Al-Farabi, Al- Jabbar, Al-Kindi, dan sederet Begawan IPTEK lainnya.
Nah, here comes the day... the election day.
Para kandidat, yang kebetulan hanya dua orang, yaitu Aira dan Ronan, keduanya dari kelas XI IPA 1 alias Grade XI Sci 1, tampak sudah sibuk memobilisasi para pendukung untuk bergerilya memastikan bakal perolehan suara. Hebohnya hampir sama dengan PILEG dan PILPRES di Negara kita kali.
Di sini juga ternyata ada serangan fajar dan black campaign. Misalnya saja, para pendukung Ronan yang didominasi cedwek-cewek cantik dan popular anggota Cheerleaders Squad, band, Vocal Grup, Paduan Suara, dan basket, dengan agresif bergerilya ke adik-adik kelas, anak-anak preppy. Mereka bawa-bawa pin, stiker, sampe standing banner segede pintu kelas, bergambar wajah cute Ronan. Cewek-cewek preppy jelas banyak yang langsung jatuh hati sama si prince charming itu. Apalagi diiming-imingi bonus pin dan stiker. Lumayan kan, bisa ditempel di pintu kamar (mandi).
Sementara para pendukung Aira, yang didominasi oleh para makhluk pintar dan agak-agak geeky (yang ini pasti anak-anak Science Club, Book Club, English Club, Merpati Putih, Rohis, dan Koperasi Siswa... oops, nambah juga, Majalah Sekolah, dan Computer Club), dan anak-anak berjilbab (Rohis lagi dooong), juga tak kalah agresif mendekati calon pemilih. Mereka bahkan menguasai pojok paling cozy di kantin Mr. Uwak (gak jelas nama sebenernya siapa, tapi turun temurun siswa yang sekolah di situ memanggilnya Uwak) yang dinamai Exist Café, sebagai markas besar pendukung Aira.
Di markas itulah Aira, Wanda, Kirana, dan Dina mengumpulkan selebaran black campaign tentang Aira. Dari muka-muka mereka, kelihatan mereka berang sekali. Gimana mereka nggak berubah jadi berang-berang pemberang, coba? Ini salah satu contoh:
BEBERAPA ALASAN AIRA GAK PANTAS JADI PRESIDENT:
a. Aira ternyata dodol banget membedakan hukum Newton I, II, dan III. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menegakkan hukum di Exist, kalau dianya sendiri nggak faham hukum-hukum Newton?
b. Aira nggak banget kalau urusan fashion. Gini hari masih shopping di Passer Baroe? Hello, kemana aja, neng? Gak nyadar ya butik Mango, Zara, dan Nine West udah ada di Mall-mall gede? Paling apes ada Harvey Nichols, Debenhams, atau Sogo kan?
c. Friendlist nya Aira di Facebook dan Friendster nya didominasi oleh manusia-manusia katro dan geeky. Mualas banget deh.
d. Aira bukan salah satu atau salah semuanya anggota club-club elit di Exist. You named it: Cheers, dance Group, Basket, Renang, Vocal Group, Paduan Suara, Band, Bola, Tinju...
Jadi kesimpulannya: Aira is Katro! So, jangan biarkan anak katro memimpin Exist, meski hanya untuk satu tahun ke depan. Nggak banget!
Membaca selebaran itu, kelihatan wajah Aira yang putih cenderung pinkish itu memerah. Agaknya dia sangat marah. Mungkin kepalanya sudah mendidih. Coba cek, silakan taruh telur mentah di atas kepalanya. Pasti langsung bisa dimakan deh tuh telur.
Sementara itu, Widodo, anak Rohis yang juga menjagokan Aira, tampak berlari-lari mendekati meja yang ditempati Aira cs. Tangannya mengacung-acungkan sebuah selebaran yang berwarna hijau dangdut. Aduh, selebaran apa pula itu? Kirana sampai mengerjap-ngerjapkan matanya pusing.
"Apaan tuh, Wid?" Tanya Aira begitu Widodo mendarat di lokasi.
"Nih, baca aja. Lu kok bisa sih ikutan bikin segala black campaign begini? Nggak boleh lho, mencari kemenangan dengan cara menjatuhkan lawan..."
Hah? Siapa lagi yang bikin begituan? Aira dan tim suksesnya langsung pada melongo. Mana warnanya nggak banget lagi!
"Coba gue lihat," Dina langsung menarik selebaran itu dari tangan Wid. Kirana yang suka sok imut langsung menjengit jijay melihat selebaran mendadak dangdut itu.
FUN FACTS ABOUT RONAN
1. Dia konon kabarnya masih turunan vampire kayak si Edward di film Twilight. Bisa dibuktikan dari kesukaannya merenung dan meramal. Kalau turunannya Robert Pattinson-nya sih ya nggak apa-apa banget kaliL
2. Ronan terbukti ikut remedial social studies dan world history beberapa kali sewaktu di Grade X. Silakan Tanya sama dia, darimana asalnya Mussolini, pasti dia nggak tahuJ
3. Bapaknya Ronan adalah bangsawan Jawa. It's OK. Tapi ibunya adalah kelahiran Setu Babakan. Tahu nggak dimana tuh tempat? Silakan cari di peta Jakarta. You know lah, Jakarta is a beautiful country getoloh and dangdut is the music of my country dehJ.
Jadi, kalau kamu peduli sama bibit, bebet dan bobot, silakan pilih siapa saja. Asal jangan Ronan!
"Huahahahaha..." Aira langsung ngakak keras banget dan mengundang pelototan ngeri dari Wanda dan Wid.
"Lu percaya kalau gue yang bikin ginian?" Dia balik bertanya kepada Wid.
Yang ditanya malah balik bertanya pula, "Emang bukan?"
"YA BUKANLAH, MASAK YA BUKAN DONG!" bentak Aira, Dina, dan Kirana serempak. Sementara Wanda hanya nyengir-nyengir malu melihat kelakuan sahabat-sahabatnya yang rada minus itu. Wid sendiri langsung mundur kaget, disemprot cewek-cewek berisik itu. Haduuuh.
Aira mengambil selebaran itu dari tangan Dina, melewati Kirana yang langsung menutup hidungnya. Padahal selebaran itu sama sekali nggak bau lho. Kirana memang terkenal sebagai Miss Drama Queen, sesuai dengan ekskul yang dia ikuti: Teater.
Aira memonyong-monyongkan bibirnya membaca selebaran itu. Lalu membandingkannya dengan selebaran yang lebih dulu ia pegang.
"Hmmm... gayanya sama nih. Lame... basi!" komennya, singkat. Namun otaknya mulai menunjuk kepada seseorang atau beberapa orang. Aduh, padahal harusnya jangan suuzhan dulu kali.
"Gaya apanya?" Tanya Kirana, tulalit. Dia memanjang-manjangkan lehernya, mencoba membaca selebaran yang tadi ia benci setengah mati itu.
"Gaya nulisnya lah. Emang gaya apanya lagi? Lagian tadi kamu benci banget sama tu kertas, sekarang sok-sok ngintip pula," goda Wanda yang mengundang pelototan Kirana.
"Kira-kira... siapa yang nulis, Ra?" Tanya Dina dan Wid kompak. Sesaat kemudian keduanya menyadari kalau mereka kompak, lalu saling melotot dan memalingkan wajah sambil mingkem. Yang lain jadi pada senyum.
Aira tidak menjawab. Dia hanya memutar matanya yang indah itu. Lalu dengan lagak bak Queen Bee, dia mengeluarkan BlackBerry (yang belakangan ternyata diketahui bukan BlackBerry asli, melainkan NexianBerry, keluaran China), dan tampak mengirim message kepada seseorang.
To: Forest Gump
You rock, babeJ.
I will return ...
Di sudut lain, dekat dandang somay Mr. Uwak, seseorang mendengar bunyi ting!ting! di BlackBerry-nya, tanda ada pesan masuk.
To: Miley Cyrus
Hahaha... life is a box of chocolate, like I said. Just take your box today!
Tak berapa lama, terjadi saling kirim message di antara keduanya.
To: Forest Gump
Just eat your piece too, babeJ. Asal kamu tau: ada kesalahan informasi, btw, gue adalah ANAK PADUAN SUARA. Silakan ralat info mu yaJ. Dan gue baru sekali belanja di Passer Baroe, selebihnya gue prefer belanja di MAYESTIKJ)...
To: Miley Cyrus
Hahaha... norakJ
To Forest Gump
Btw, ralat lagi. Kayaknya bukan si Edward deh yg vampire di film Twilight, tapi si Bella
nya kayanya. Eh, apa gue yg salah?
Si Forest Gump tersenyum kemudian mengantungi BlackBerry-nya dan kembali bergabung bersama kerumunan. Acara pemungutan suara akan segera berlangsung.
Tengah hari, menjelang azan zuhur, pemungutan suara akhirnya selesai. Ketika melewati barisan anak cowok di mushala, Aira yang hendak shalat zuhur menangkap celetukan sinis. "Dasar social climber!" Tapi tak seperti biasanya, dimana ia akan nyolot dan langsung menggaplok dengan nafsu membunuh yang besar ke si mulut sinis tadi, Aira hanya melenggang dengan acuh.
Batinnya bilang, nanti akan ada saatnya gue tunjukkin bahwa gue nggak katro, dan bukan social climber kayak elu!
Sejak peristiwa di parking lot, Aira nampak lebih berhati-hati lagi. Ia belajar mengurangi nafsu senggol-gampar nya yang biasanya dominan. Bukankah seorang pemimpin yang baik harus bisa menahan diri? Begitu kata Wanda saat akhirnya ia curhat kepada cewek manis itu. Dan bersama Wanda, ia telah menyimpan kartu truf si belagu itu.
Si cowok sinis, yang tak lain adalah Ronan, menggumam dalam hatinya. "OK, Ra, gue tahu gue salah menyimpulkan. Gue akui, lu lah yang bikin Rohis, Science Club, dan segala ekskul yang tampak geeky itu menjadi nggak geeky. Ya, Ra, karena lu selalu bisa mencairkan suasana. Lu nggak ikutan kaku meski bareng sama anak-anak yang kaku. Lu nggak ikutan bebas meski ngumpul sama anak-anak yang bebas. Lu... gaul tapi tetap punya karakter.
Lu kayak sebatang coklat, Ra. Lu bisa melumerkan suasana hati orang.
Tapi tetep aja, gue nggak mau lu jadi Presiden. Gue nggak biasa kalah, Ra. Apalagi dari orang yang (tadinya) gue anggap katro kayak lu."
Ronan segera mengikuti teman-temannya shalat berjamaah, dan menutupnya dengan doa untuk kemenangannya. Demi sebuah gengsi!
Hasil akhir pemilihan itu diumumkan sebelum shalat ashar. Hasilnya, Ronan menang. Dia yang jadi Presiden sekarang. Sejujurnya, Aira sedih. Sedih banget. Makanya dia merasa sangat terhibur menyadari Wanda dan Dina meremas bahunya dengan hangat. Tanpa disadari ada bening di sudut matanya. Ya Allah, aku kalah lagi, batin Aira nelangsa.
Di panggung aula, Ronan tampak berjaya disalami guru-guru,kepala sekolah, dan kak Rudy, Presiden terdahulu.
Ingin rasanya Aira berteriak lantang, "Woooyyy, lu curang! Lu menang dengan curang! Lu jahat! Gue nggak bisa terima!"
Tapi yang ada dia hanya duduk terdiam mematung. Kedua tangannya dipangkukan di pahanya. Lemas. Ia bahkan malas mendengar speech Ronan di hari bersejarah itu. Ia hanya menoleh sebentar saat Wanda menyentuh tangannya.
Ya, sosok yang berpidato di depan itu, yang katanya manusia paling ganteng di sini, tampak dingin. Aura esnya terasa hingga ke dalam hatinya.Ada sesuatu yang disembunyikan Ronan di balik popularitasnya yang melangit belakangan ini. Sosok rapuh. Menyadari itu, Aira menggigit bibirnya. Boleh jadi, lawannya ini bukanlah tandingannya sebenarnya.
Maka, ia terperangah ketika anak-anak ramai menyerukan namanya. Ada apa?
"Kamu diminta Ronan naik ke panggung," jelas Wanda yang tahu Aira sempat melamun.
"Ngapain? Mau dicela? Dikatain katro?"
Wanda mengangkat bahu, dan setengah mendorongnya berdiri. "Hadapi dengan elegan, Ra. Ingat missi kita," ujar Wanda lirih.
Gleg. Aira menelan ludah. Harus ya, gue terlibat di missi ini?
Tapi ia paksakan juga untuk bangkit. Tak ada kamus minder bagi seorang AIra. Dia tidak jadi presiden, tapi bukan berarti dia kalah.
Tepuk tangan, sorak sorai, hingga suit-suit prikitiw yang nggak penting mengantarkannya sampai di panggung.
Hahaha, nggak nyangka, fans gue banyak juga, euy! Seloroh hati Aira geer.
"Dengan bangga, saya perkenalkan, sekretaris yang akan mendampingi saya dalam masa jabatan setahun ke depan, Miss Khairani Prawiraningrat!"
Hah? What?
Itu tadi Ronan yang ngomong, kan?
Aira sempat bingung juga. Namun segera dia menyadari julukan Ronan padanya, Si Katro. Aduh, jangan sampai aja dia jadi kelihatan katro beneran sekarang.
Tapi ternyata serius, euy. Ronan behave banget di panggung, nggak ngatain dia katro atau apapun yang biasanya bikin Aira mau nyambel mulut anak itu. Jadi Aira juga berusaha mengimbangi dengan berlaku datar dan nggak galak kayak biasanya. Anak-anak XI IPA 1 tampak menarik nafas lega melihat pasangan crazy in hatred itu secara tumben nggak tampak ingin saling membunuh kayak biasanya.
Sampai pulang sekolah, Aira menyangka Ronan sudah berlaku sportif dan sudah menyadari bahwa anggapan dia selama ini salah. Tapi ketika dia tengah memarkir mobilnya di garasi, sebuah pesan masuk ke NB nya.
From: Forest Gump
Thanks. Gue sebenernya udh lihat kok, bahwa gak ada ekskul katro di sekolah ini. Yg katro mah dimana2 ada, dan bkn hny di ekskul tertentu.
Segera ia mengirim balasan.
To: Forest Gump
Bagus deh kalo udh nyadar.
From: Forest Gump
Jd siap ya Aira Bantu gue?
To: Forest Gump
Ya, kita tawar2an lah nanti. Namanya jg politikJ. Politik itu kejam, Jendral.
From: Forest Gump
Hahaha, sekali katro tetap katro! Hidup katro! Sekretaris gue emg asli katro!
To: Forest Gump
Diam! I'm not katro, DODOOOOLLL!
Tanpa tunggu waktu lagi, Aira langsung menekan off pada NB nya. Bodo amat deh. Emang dasar jahat, ya harusnya gak dikasih ampun, batinnya gondok. Lihat aja nanti malam di wall facebooknya pasti gue cela abisss...
Sumpah, ini adalah sekolah paling funky di dunia. Baru hari kedua saja, sekolah sudah mengadakan pesta demokrasi, alias pemilihan ketua OSIS yang mereka sebut President of Student Club. Sementara sekolah lain masih sibuk dengan MOS dan apapun namanya itu. Di Exist, MOS alias Welcoming the Preppy baru akan diadakan seminggu lagi. Kapan belajarnya ya? Ah, namanya juga sekolah unggulan, dimana anak-anaknya sebagian besar punya otak sederajat sama Habibie, Bill Gates, Einstein, Al-Farabi, Al- Jabbar, Al-Kindi, dan sederet Begawan IPTEK lainnya.
Nah, here comes the day... the election day.
Para kandidat, yang kebetulan hanya dua orang, yaitu Aira dan Ronan, keduanya dari kelas XI IPA 1 alias Grade XI Sci 1, tampak sudah sibuk memobilisasi para pendukung untuk bergerilya memastikan bakal perolehan suara. Hebohnya hampir sama dengan PILEG dan PILPRES di Negara kita kali.
Di sini juga ternyata ada serangan fajar dan black campaign. Misalnya saja, para pendukung Ronan yang didominasi cedwek-cewek cantik dan popular anggota Cheerleaders Squad, band, Vocal Grup, Paduan Suara, dan basket, dengan agresif bergerilya ke adik-adik kelas, anak-anak preppy. Mereka bawa-bawa pin, stiker, sampe standing banner segede pintu kelas, bergambar wajah cute Ronan. Cewek-cewek preppy jelas banyak yang langsung jatuh hati sama si prince charming itu. Apalagi diiming-imingi bonus pin dan stiker. Lumayan kan, bisa ditempel di pintu kamar (mandi).
Sementara para pendukung Aira, yang didominasi oleh para makhluk pintar dan agak-agak geeky (yang ini pasti anak-anak Science Club, Book Club, English Club, Merpati Putih, Rohis, dan Koperasi Siswa... oops, nambah juga, Majalah Sekolah, dan Computer Club), dan anak-anak berjilbab (Rohis lagi dooong), juga tak kalah agresif mendekati calon pemilih. Mereka bahkan menguasai pojok paling cozy di kantin Mr. Uwak (gak jelas nama sebenernya siapa, tapi turun temurun siswa yang sekolah di situ memanggilnya Uwak) yang dinamai Exist Café, sebagai markas besar pendukung Aira.
Di markas itulah Aira, Wanda, Kirana, dan Dina mengumpulkan selebaran black campaign tentang Aira. Dari muka-muka mereka, kelihatan mereka berang sekali. Gimana mereka nggak berubah jadi berang-berang pemberang, coba? Ini salah satu contoh:
BEBERAPA ALASAN AIRA GAK PANTAS JADI PRESIDENT:
a. Aira ternyata dodol banget membedakan hukum Newton I, II, dan III. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menegakkan hukum di Exist, kalau dianya sendiri nggak faham hukum-hukum Newton?
b. Aira nggak banget kalau urusan fashion. Gini hari masih shopping di Passer Baroe? Hello, kemana aja, neng? Gak nyadar ya butik Mango, Zara, dan Nine West udah ada di Mall-mall gede? Paling apes ada Harvey Nichols, Debenhams, atau Sogo kan?
c. Friendlist nya Aira di Facebook dan Friendster nya didominasi oleh manusia-manusia katro dan geeky. Mualas banget deh.
d. Aira bukan salah satu atau salah semuanya anggota club-club elit di Exist. You named it: Cheers, dance Group, Basket, Renang, Vocal Group, Paduan Suara, Band, Bola, Tinju...
Jadi kesimpulannya: Aira is Katro! So, jangan biarkan anak katro memimpin Exist, meski hanya untuk satu tahun ke depan. Nggak banget!
Membaca selebaran itu, kelihatan wajah Aira yang putih cenderung pinkish itu memerah. Agaknya dia sangat marah. Mungkin kepalanya sudah mendidih. Coba cek, silakan taruh telur mentah di atas kepalanya. Pasti langsung bisa dimakan deh tuh telur.
Sementara itu, Widodo, anak Rohis yang juga menjagokan Aira, tampak berlari-lari mendekati meja yang ditempati Aira cs. Tangannya mengacung-acungkan sebuah selebaran yang berwarna hijau dangdut. Aduh, selebaran apa pula itu? Kirana sampai mengerjap-ngerjapkan matanya pusing.
"Apaan tuh, Wid?" Tanya Aira begitu Widodo mendarat di lokasi.
"Nih, baca aja. Lu kok bisa sih ikutan bikin segala black campaign begini? Nggak boleh lho, mencari kemenangan dengan cara menjatuhkan lawan..."
Hah? Siapa lagi yang bikin begituan? Aira dan tim suksesnya langsung pada melongo. Mana warnanya nggak banget lagi!
"Coba gue lihat," Dina langsung menarik selebaran itu dari tangan Wid. Kirana yang suka sok imut langsung menjengit jijay melihat selebaran mendadak dangdut itu.
FUN FACTS ABOUT RONAN
1. Dia konon kabarnya masih turunan vampire kayak si Edward di film Twilight. Bisa dibuktikan dari kesukaannya merenung dan meramal. Kalau turunannya Robert Pattinson-nya sih ya nggak apa-apa banget kaliL
2. Ronan terbukti ikut remedial social studies dan world history beberapa kali sewaktu di Grade X. Silakan Tanya sama dia, darimana asalnya Mussolini, pasti dia nggak tahuJ
3. Bapaknya Ronan adalah bangsawan Jawa. It's OK. Tapi ibunya adalah kelahiran Setu Babakan. Tahu nggak dimana tuh tempat? Silakan cari di peta Jakarta. You know lah, Jakarta is a beautiful country getoloh and dangdut is the music of my country dehJ.
Jadi, kalau kamu peduli sama bibit, bebet dan bobot, silakan pilih siapa saja. Asal jangan Ronan!
"Huahahahaha..." Aira langsung ngakak keras banget dan mengundang pelototan ngeri dari Wanda dan Wid.
"Lu percaya kalau gue yang bikin ginian?" Dia balik bertanya kepada Wid.
Yang ditanya malah balik bertanya pula, "Emang bukan?"
"YA BUKANLAH, MASAK YA BUKAN DONG!" bentak Aira, Dina, dan Kirana serempak. Sementara Wanda hanya nyengir-nyengir malu melihat kelakuan sahabat-sahabatnya yang rada minus itu. Wid sendiri langsung mundur kaget, disemprot cewek-cewek berisik itu. Haduuuh.
Aira mengambil selebaran itu dari tangan Dina, melewati Kirana yang langsung menutup hidungnya. Padahal selebaran itu sama sekali nggak bau lho. Kirana memang terkenal sebagai Miss Drama Queen, sesuai dengan ekskul yang dia ikuti: Teater.
Aira memonyong-monyongkan bibirnya membaca selebaran itu. Lalu membandingkannya dengan selebaran yang lebih dulu ia pegang.
"Hmmm... gayanya sama nih. Lame... basi!" komennya, singkat. Namun otaknya mulai menunjuk kepada seseorang atau beberapa orang. Aduh, padahal harusnya jangan suuzhan dulu kali.
"Gaya apanya?" Tanya Kirana, tulalit. Dia memanjang-manjangkan lehernya, mencoba membaca selebaran yang tadi ia benci setengah mati itu.
"Gaya nulisnya lah. Emang gaya apanya lagi? Lagian tadi kamu benci banget sama tu kertas, sekarang sok-sok ngintip pula," goda Wanda yang mengundang pelototan Kirana.
"Kira-kira... siapa yang nulis, Ra?" Tanya Dina dan Wid kompak. Sesaat kemudian keduanya menyadari kalau mereka kompak, lalu saling melotot dan memalingkan wajah sambil mingkem. Yang lain jadi pada senyum.
Aira tidak menjawab. Dia hanya memutar matanya yang indah itu. Lalu dengan lagak bak Queen Bee, dia mengeluarkan BlackBerry (yang belakangan ternyata diketahui bukan BlackBerry asli, melainkan NexianBerry, keluaran China), dan tampak mengirim message kepada seseorang.
To: Forest Gump
You rock, babeJ.
I will return ...
Di sudut lain, dekat dandang somay Mr. Uwak, seseorang mendengar bunyi ting!ting! di BlackBerry-nya, tanda ada pesan masuk.
To: Miley Cyrus
Hahaha... life is a box of chocolate, like I said. Just take your box today!
Tak berapa lama, terjadi saling kirim message di antara keduanya.
To: Forest Gump
Just eat your piece too, babeJ. Asal kamu tau: ada kesalahan informasi, btw, gue adalah ANAK PADUAN SUARA. Silakan ralat info mu yaJ. Dan gue baru sekali belanja di Passer Baroe, selebihnya gue prefer belanja di MAYESTIKJ)...
To: Miley Cyrus
Hahaha... norakJ
To Forest Gump
Btw, ralat lagi. Kayaknya bukan si Edward deh yg vampire di film Twilight, tapi si Bella
nya kayanya. Eh, apa gue yg salah?
Si Forest Gump tersenyum kemudian mengantungi BlackBerry-nya dan kembali bergabung bersama kerumunan. Acara pemungutan suara akan segera berlangsung.
Tengah hari, menjelang azan zuhur, pemungutan suara akhirnya selesai. Ketika melewati barisan anak cowok di mushala, Aira yang hendak shalat zuhur menangkap celetukan sinis. "Dasar social climber!" Tapi tak seperti biasanya, dimana ia akan nyolot dan langsung menggaplok dengan nafsu membunuh yang besar ke si mulut sinis tadi, Aira hanya melenggang dengan acuh.
Batinnya bilang, nanti akan ada saatnya gue tunjukkin bahwa gue nggak katro, dan bukan social climber kayak elu!
Sejak peristiwa di parking lot, Aira nampak lebih berhati-hati lagi. Ia belajar mengurangi nafsu senggol-gampar nya yang biasanya dominan. Bukankah seorang pemimpin yang baik harus bisa menahan diri? Begitu kata Wanda saat akhirnya ia curhat kepada cewek manis itu. Dan bersama Wanda, ia telah menyimpan kartu truf si belagu itu.
Si cowok sinis, yang tak lain adalah Ronan, menggumam dalam hatinya. "OK, Ra, gue tahu gue salah menyimpulkan. Gue akui, lu lah yang bikin Rohis, Science Club, dan segala ekskul yang tampak geeky itu menjadi nggak geeky. Ya, Ra, karena lu selalu bisa mencairkan suasana. Lu nggak ikutan kaku meski bareng sama anak-anak yang kaku. Lu nggak ikutan bebas meski ngumpul sama anak-anak yang bebas. Lu... gaul tapi tetap punya karakter.
Lu kayak sebatang coklat, Ra. Lu bisa melumerkan suasana hati orang.
Tapi tetep aja, gue nggak mau lu jadi Presiden. Gue nggak biasa kalah, Ra. Apalagi dari orang yang (tadinya) gue anggap katro kayak lu."
Ronan segera mengikuti teman-temannya shalat berjamaah, dan menutupnya dengan doa untuk kemenangannya. Demi sebuah gengsi!
Hasil akhir pemilihan itu diumumkan sebelum shalat ashar. Hasilnya, Ronan menang. Dia yang jadi Presiden sekarang. Sejujurnya, Aira sedih. Sedih banget. Makanya dia merasa sangat terhibur menyadari Wanda dan Dina meremas bahunya dengan hangat. Tanpa disadari ada bening di sudut matanya. Ya Allah, aku kalah lagi, batin Aira nelangsa.
Di panggung aula, Ronan tampak berjaya disalami guru-guru,kepala sekolah, dan kak Rudy, Presiden terdahulu.
Ingin rasanya Aira berteriak lantang, "Woooyyy, lu curang! Lu menang dengan curang! Lu jahat! Gue nggak bisa terima!"
Tapi yang ada dia hanya duduk terdiam mematung. Kedua tangannya dipangkukan di pahanya. Lemas. Ia bahkan malas mendengar speech Ronan di hari bersejarah itu. Ia hanya menoleh sebentar saat Wanda menyentuh tangannya.
Ya, sosok yang berpidato di depan itu, yang katanya manusia paling ganteng di sini, tampak dingin. Aura esnya terasa hingga ke dalam hatinya.Ada sesuatu yang disembunyikan Ronan di balik popularitasnya yang melangit belakangan ini. Sosok rapuh. Menyadari itu, Aira menggigit bibirnya. Boleh jadi, lawannya ini bukanlah tandingannya sebenarnya.
Maka, ia terperangah ketika anak-anak ramai menyerukan namanya. Ada apa?
"Kamu diminta Ronan naik ke panggung," jelas Wanda yang tahu Aira sempat melamun.
"Ngapain? Mau dicela? Dikatain katro?"
Wanda mengangkat bahu, dan setengah mendorongnya berdiri. "Hadapi dengan elegan, Ra. Ingat missi kita," ujar Wanda lirih.
Gleg. Aira menelan ludah. Harus ya, gue terlibat di missi ini?
Tapi ia paksakan juga untuk bangkit. Tak ada kamus minder bagi seorang AIra. Dia tidak jadi presiden, tapi bukan berarti dia kalah.
Tepuk tangan, sorak sorai, hingga suit-suit prikitiw yang nggak penting mengantarkannya sampai di panggung.
Hahaha, nggak nyangka, fans gue banyak juga, euy! Seloroh hati Aira geer.
"Dengan bangga, saya perkenalkan, sekretaris yang akan mendampingi saya dalam masa jabatan setahun ke depan, Miss Khairani Prawiraningrat!"
Hah? What?
Itu tadi Ronan yang ngomong, kan?
Aira sempat bingung juga. Namun segera dia menyadari julukan Ronan padanya, Si Katro. Aduh, jangan sampai aja dia jadi kelihatan katro beneran sekarang.
Tapi ternyata serius, euy. Ronan behave banget di panggung, nggak ngatain dia katro atau apapun yang biasanya bikin Aira mau nyambel mulut anak itu. Jadi Aira juga berusaha mengimbangi dengan berlaku datar dan nggak galak kayak biasanya. Anak-anak XI IPA 1 tampak menarik nafas lega melihat pasangan crazy in hatred itu secara tumben nggak tampak ingin saling membunuh kayak biasanya.
Sampai pulang sekolah, Aira menyangka Ronan sudah berlaku sportif dan sudah menyadari bahwa anggapan dia selama ini salah. Tapi ketika dia tengah memarkir mobilnya di garasi, sebuah pesan masuk ke NB nya.
From: Forest Gump
Thanks. Gue sebenernya udh lihat kok, bahwa gak ada ekskul katro di sekolah ini. Yg katro mah dimana2 ada, dan bkn hny di ekskul tertentu.
Segera ia mengirim balasan.
To: Forest Gump
Bagus deh kalo udh nyadar.
From: Forest Gump
Jd siap ya Aira Bantu gue?
To: Forest Gump
Ya, kita tawar2an lah nanti. Namanya jg politikJ. Politik itu kejam, Jendral.
From: Forest Gump
Hahaha, sekali katro tetap katro! Hidup katro! Sekretaris gue emg asli katro!
To: Forest Gump
Diam! I'm not katro, DODOOOOLLL!
Tanpa tunggu waktu lagi, Aira langsung menekan off pada NB nya. Bodo amat deh. Emang dasar jahat, ya harusnya gak dikasih ampun, batinnya gondok. Lihat aja nanti malam di wall facebooknya pasti gue cela abisss...
Being Me? Oh, Ada Masalah? ( Serial Exist 3 )
You are nothing till everybody loves your characters
Emang bener deh, susah sebangku sama anak cewek berisik bin rese modelnya si Aira. Bodohnya lagi, aku terlalu baik ya, mengangkat dia jadi sekretarisku di kepengurusan Student Club. Hahaha, nggak tau ada setan baik apa yang mendadak menempel di kepalaku saat itu. Mestinya aku biarkan saja ya dia kalah dan jadi pecundang. Hehehe. Kau pecundang, SpongeBob, seperti kata Squidward Tentacles di film kartun SpongeBob Squarepants.
Tapi dorongan tim suksesku, terutama Radit, saat itu amatlah keras. Mungkin, Radit memang benar naksir Wanda, seperti gossip yang santer dibicarakan. Makanya dia berusaha menyatukan kubu-ku dan kubu Aira (dimana di situ ada Wanda). Si Ustad kagetan itu juga yang memaksaku untuk menempatkan Aira sebagai salah satu think tank kepengurusan SC tahun ini. Iya sih, Aira emang pinter BANGET. Bahkan kuakui olok-olokku atas kemampuan fisikanya yang payah juga nggak terlalu terbukti. Karena anak itu kayaknya kalau mau ulangan, bela-belain nelen buku pelajaran kali. Soalnya aku perhatikan makin lama, otaknya makin kinclong aja.
Gawat nih, kalau begitu. Bisa-bisa aku yang nanti malah jadi pecundang di akhir semester tiga ini. Kalah dari Aira? Huh, dosa yang tak termaafkan dari seorang Ronan Lukito! Nggak sudi!
Yang bikin aku bete adalah kepercayaan dirinya yang selangit. Aura pedenya yang kayaknya nggak abis-abis itu juga bahkan selalu sukses menulariku hari ke hari. Dia tampak carefree dan apa adanya. Menikmati hidup, menertawai kegagalan, hingga mengekspresikan perasaannya. Jujur, aku iri dan TERAMAT IRI. Mau rasanya aku menukar karakternya yang pede itu dengan apa saja yang kumiliki, agar aku juga bisa seperti dia.
Padahal siapa sih dia?
Keluarga Prawiraningrat memang keluarga bangsawan dan kakeknya mantan pejabat zaman dulu. Konon, keluarganya emang sudah dari kaya dari sononya. Tapi itu dulu. Dan harusnya mereka bisa lebih kaya dari itu. Tapi kakeknya terlalu jujur untuk ukuran pejabat setingkat dirjen. Tambahan lagi, beberapa perusahaan keluarga mereka juga enggan 'berkompetisi', so they lost their old money. Sekarang, mereka hanya keluarga 'orang kebanyakan',
Aira sendiri nampak tak terpengaruh apa-apa dengan kehidupan keluarganya yang jelas-jelas downgrading banget. Malah sesekali dia hanya naik bus atau dijemput kakaknya yang sudah kuliah, naik si pink jelek itu. Dia nggak branded, nggak suka muncul di pesta-pesta sejenis birthday bash di club-club yang lagi happening sekarang, atau sekedar hang out. Dia type remaja biasa banget yang lebih suka menghabiskan waktunya di Gramedia, QB, Times, Kinokuniya, Aksara, atau Zoe... for your info, dia terlalu gila buku dan nonton DVD. Dia lebih suka nongkrong di Dunkin, JCo, Krispy Kreme, atau sesekali di Coffee Bean, Brew&Co, Sour Sally, Dairy Queen, dan Quickly, ketimbang leyeh-leyeh di The Sultan atau Four Seasons (meski sekedar ngopi di cafenya). Biasa banget kan? Dan, gini hari masih dengan norak janjian makan ice cone di AW atau McD dengan geng berisiknya itu? Huhuhuw, dia terlalu BIASA untuk jadi cewek ngetop di EXIST.
Mau tahu tempat favoritnya yang lain?
Pasar mayestik (tempat dia berburu cetakan kue dan segala alat menyulamnya... gini hari masak dan nyulam? Nenek-nenek banget kaliiiJ), perpustakaan, museum, gedung kesenian Jakarta, dan TIM. Freaky banget kan? Yang agak lumayan ya, DiscTarra aja kali.
Tapi dia TETEUP LEBIH POPULER DAN MEMBUMI di Exist ketimbang gue! Lalu apa dosa gue sebenarnya sih?
It's OK, aku sudah jadi President di sini. Tapi lihat dong, di depan mata kepalaku sendiri, dia tampak lebih bisa berdekat-dekat dengan hampir semua pengurus ekskul di sini. Sedangkan aku?
"Ra, gue masukin program Save the Earth dong buat tema Pensi kita taun ini," usul Nendya, ketua Mading. Ini cewek emang go green banget deh.
"Ra, usul juga. Gimana kalau kita ngundang Hijau Daun, sekalian sama Efek Rumah Kaca dan Everybody Loves Irene untuk Pensi taun ini?" usul Jockey, si ketua Band.
"Jangan, Ra. Musiknya anomaly buat kuping gue. Peterpan aja. Gue kan fansnya Ariel. Kalo Hijau Daun sih boleh. Kan musiknya mirip tuh sama Peterpan, suara vocalisnya juga, " usul Rena, si Luna-Maya-replika.
"Ih, jijay. Sekalian aja lu ngundang Luna Maya gitu. Dasar fansnya Ariel lu! Nggak malu ya saingan sama Luna Maya?" selak Jockey dengan muka sebal,
"Hah, lu mah pantesnya ngundang Mbah Surip sama Kuburan Band aja kaleee," cibir Rosa, sesama fansnya boysband.
Aira dengan santai mencoret-coret usulan itu dengan pulpen Rapidonya di tangan kanan, sementara notesnya diletakkan di meja kami. Tangan kirinya masih memegang gelas Styrofoam berisi hot latte dari Uwak Café. Santai dan tanpa beban.
"OK, udah gue tulis semua, guys. Termasuk soal mbah Surip dan Kuburan Band juga. Gue malah mau usul ngundang Tangga juga," jawab Aira sambil terus nulis sambil ngopi.
"Hah? Serius lu?" Tanya Jockey melongok notes Aira.
"Yang mana? Tangga? Lu suka juga ya?"
"Bukan. Yang Mbah Surip sama Kuburan Band?"
"Kalau lu pada suka, ya nggak apa-apa dong..."
Aku mencibir kesal. Aku dianggap hantu, kali. Heh, DODOL, PRESIDENNYA ITU GUE, BUKAN DIA!
Sial! Aku makin jealous saja melihat dia seenak jidatnya tebar pesona gitu. Besok-besok, jangan-jangan dia kudeta lagi!
Tiba-tiba aku merasa gerah. Jangan-jangan anak ini pakai guna-guna ya? Supaya dia lebih kelihatan dari aku? Supaya dia bisa seenaknya mempercundangi aku gitu? Hih!
Aku hendak beranjak bangkit, sewaktu dia menoleh ke arahku dengan matanya yang (sok) sepolos kelinci.
"Lho, lho, kamu mau kemana, Ronan? Kan rapat Pensi belum selesai?" tanyanya heran.
Aku mendengus kesal. Tatap mata heran juga kubaca jelas dari teman-teman yang masih mengitari meja kami.
"Mau buang pusing. Kamu lanjutkan aja rapatnya, nanti hasilnya lapor ke aku!"
"E-eh, ya nggak bisa gitu dong. Kamu suka lepas tanggung jawab gitu sih!" Nah, nah, Nenek sihir mulai mengomel.
"Gue eneg, denger segala Mbah Surip dibahas!"
"Ya terus kamu maunya siapa? Mau ngundang Michael Jackson kan tinggal hantunya? Mau ngundang U2, Maroon Five, atau Rihanna?"
"Mau ngundang He Ah Lee disuruh duet sama Maylaffayza, yang nyanyi Gita Gutawa! Atau sekalian ngundang Sarah Brightman sama Andrea Bocelli. Puas?"
"Bagus! Selera kita sama. Kalau gitu, mau kamu ngusahain menghubungi mereka?"
Dasar to**l!
"Lu bisa serius nggak sih ngurus beginian? Jangan bisa lu hanya ribut doing deh!"
Dia kontan berdiri, sementara temen-temen yang lain nampak mulai bete dengan kebiasaan lama kami yang nggak bisa hilang; nafsu saling mengalahkan! "Nah, kamu sendiri dari tadi ngapain? Ngelamun nggak jelas kayak orang patah hati! President apaan kamu?"
"Kamu diam! Kamu hanya sekretaris. Itu juga kebaikan gue yang ngangkat elu yang tadinya pecundang dan BUKAN SIAPA-SIAPA! Makanya jangan belagu!" Amarahku memuncak lagi. Heran deh, nggak bisa ya dia membiarkan aku sebentar saja nggak pingin menamparnya?
Sekarang kami sudah bertatapan sengit.
"Bagus! Aku emang bukan siapa-siapa dan nggak pernah pingin jadi siapa pun di sini. Gue ya gue. Aira ya Aira. Dan asal kamu tahu ya, aku nggak pernah mengemis sama kamu buat diikutkan di kepengurusan ini! KERJASAMA KITA SELESAI, Mr. Sombong!"
Mata kami saling memancarkan bara. Tanganku sudah terkepal pingin menampar mulutnya yang gede omong itu.
"Ada masalah?" tantangnya nekad.
"Ya. Masalah besar. Masalah gue adalah KAMU!"
"Ada apa lagi? Kan aku udah mundur. Silakan angkat sekretaris baru. Bye!" Dia berbalik dengan mata yang ... riang. Luar biasa!
"Nah, guys, gue bebas tugas. Ihiyyy, ayo, Ren, kita katanya mau beli ice cone di McD Pasaraya. Yuk, sekarang. Yang lain, silakan lanjutkan rapat sama Ronan ya? Yuuuuk..." Dengan ceria dia menggamit lengan Rena, salah satu dayang-dayangnya yang nampak masih shock (seperti juga anak-anak lain) dan jadi kelihatan tolol.
Perlahan, kurasakan ada yang melorot dan meluruh di hati; percaya diriku. Satu kelemahan terbesarku...
Selesai Rapat
"Dit, lihat Aira?" bisikku pada Radit yang masih sibuk di mushala, merapikan Quran yang agak berantakan.
"Hah? Tumben ente..." jawabnya dengan lagak menyebalkan.Mengapa hari ini semua orang jadi tampak menyebalkan di mataku sih?
"Emang kamu nggak denger kita berantem lagi gara-gara rapat Pensi tadi?"
"Denger sih. Wanda yang cerita..."
"Jieee. Udah rukun ya sama Wanda?"
"Hahaha. Yang galak kan dia. Ane mah nyantai. Lagian, masak sama partner kerja nggak bisa rukun sih?"
"Partner kerja? Ngomong lu udah kayak pejabat aja. Lagian... eh, lu nyindir gue ya?"
Radit menoleh. Bengong. Kacamatanya sedikit melorot. Kalau sudah begini, dia jadi mirip Harry Potter disamber geledek.
"Nyindir apaan? Kayaknya ente konslet nih. "
"Brisik lu, kayak cewek. Udah, sekarang lu ikut gue!"
"Kemana? Lagian ente dah shalat belum?"
Aku melirik jam tangan Swiss Army-ku. "Shalat apaan? Kan tadi gue zuhur sama elu. Ashar masih lima belas menit lagi. Emangnya lu tugas ngazan lagi ya?"
Radit ketawa malu. Dia emang suka lupa gitu.
"Ikut gue ke McD Pasaraya sekarang ya?"
Radit kontan melotot."Hah? Ente mau ngebuntutin Aira ya? Ckck ck... kayaknya ente mulai kena virus merah jambu nih... pake ngebuntutin segala.Ogah ah ane!"
"Heh, virus merah jambu bapak lu! Gue..."
Tiba-tiba tenggorokanku tersendat. Aku... merasa akan ada yang timpang tanpa dia. Tanpa Aira di kepengurusan SC ini. Tadinya, alasanku memilih dia sebagai sekretaris adalah karena aku... butuh dia untuk latihan mendongjkrak rasa pedeku yang hancur sejak peristiwa kelam itu. Lagipula, dia memang bagus kerjanya. Jadi... mungkin aku harus menyelesaikan semuanya...
Sambil memakai sepatu hingga ke tempat parker, aku bercerita lamat-lamat pada Radit. Dia manggut-manggut seperti burung pelatuk mendengarkanku bercerita. Sesekali dia menyela dengan gaya bercandanya yang kadang jayus. Tapi entah mengapa, aku menganggap Radit adalah orang yang paling pas buat jadi sahabat terdekatku.
McD Pasaraya
Nah, tuh dia gerombolan si Aira. Semua sudah ganti seragam dengan baju main rupanya. Sama denganku dan Radit. Itu Aira dengan aura Queen Bee nya yang terpancar jelas.
Suatu saat, sewaktu kami lagi naik-baik saja, kami, aku dan Aira, pernah terlibat percakapan ini di ruang secretariat SC.
"Aku nggak suka banget deh sama tuh cewek," tiba-tiba Aira menggumam sambil menunjuk kea rah luar dengan matanya. Aku yang sedang buka-buka facebook melihat dengan malas.
"Oh, si Evi-Evi ini yang dulu ngegencet kamu ya?"
"He-eh. Lagaknya kayak dia yang paling Queen Bee gitu."
"Apa? Ratu Lebah?"
"Iya. Queen Bee itu istilah gitu lho, Ron. Kamu tahu nggak, seekor ratu lebah setiap selesai bersalin, pasti berteriak memanggil para tentaranya. Nah kalau ada lebah cewek yang sama-sama lagi bersalin sama dia, trus ikutan teteriakan, itu alamat si lebah cewek itu bakal menemukan ajalnya di tangan si ratu lebah."
"Hah? Sadis amat?"
"Ya gitu deh. Untung kamu bukan dilahirkan sebagai cewek ya. Hamper sebagian cewek punya naluri Queen Bee. Jujur, aku juga. Nggak boleh lihat ada yang lebih gimanaaa gitu..."
"Paham deh kalau kamu mah..."
"Eh, Dodol, aku sih suka kumat Queen Bee-ku kalau sama kamu!"
"Kok? Aku kan cowok dan bukan lebah pula!"
"Karena kamu selalu nggak mau kalah sama aku."
"Kamu juga!"
"Atau... kita emang akan gini terus kali ya, Ron?"
"Ya... terserah kamu lah. Kamu juga jadi cewek kepedean sih."
"Emang kenapa? Ada masalah?"
Saat itu aku hanya tersenyum. Sesuatu yang amat jarang kulakukan padanya. Dan dia memang agak kaget. Buru-buru dia memalingkan wajahnya.
"Nggak, ra. Nggak ada masalah. Jujur, kadang gue iri sama kamu."
Dia menoleh lagi."Iri? Sama gue? Kok bisa? Nggak penting banget sih!"
"Ah, nggak. Nggak apa-apa. Ya udahlah, jangan gegencetan lagi aja sama dia ya? Bikin malu SC aja," ujarku mengalihkan perhatian.
Dia tertawa lepas. "Ya enggaklah, masak ya enggak dong! Kan hanya nggak suka aja. Nggak lah. Aku nggak segila itu kali. Ngapain sih gegencetan? Memangnya nggak bisa ya kompetisi otak dan prestasi kayak kita?"
Nyess. Saat itu ada yang melumer di hatiku. Kompetisi otak dan prestasi? Serius? Dan dia menyukai itu?
Beneran. Nih cewek unik banget.
Mendadak ada setitik rasa di sini, aku suka pada gaya dia menyikapi persoalan. Lempeng banget. Tanpa beban. Berbanding terbalik denganku...
"Hoiiii!" Radit melambai-lambaikan tangannya di depan mataku yang bengong. Aku kontan tergeragap. Haduuuh, malah ngelamuni Aira lagi.
"Katanya mau ke McD? Ini udah di McD, terus kita mau ngapain?"
Aku tersadar. Segera kutarik Radit ke meja pemesanan. Kami melewati meja Aira yang lagi bareng Wanda dan Rena sambil ngobrol seru. Aku tahu mereka melihat kami, tapi aku cuek, berusaha cuek tepatnya. Mereka langsung menghentikan obrolan begitu melihat kami.
Aku memesan tiga cone ice cream dan tiga gelas ice lemon tea. Si radit berbisik, "Ane nggak suka McD, Bro, sebenernya. Tapi kalo ditraktir ya gak apa-apa banget!"
Menyebalkan!
Satu cone ice cream dan segelas lemon tea kuberikan pada Radit yang tersenyum berterima kasih. Aku lalu menuju meja AIra.
Aduh, kemana rasa pede yang sudah kubangun tadi?
Ra, please, jangan melongo begitu. Lihatlah kedua temanmu siap bergosip tentang kita. AYo, lakukan sesuatu...
Bismillah...
"Ra, gue mau ... kamu jangan mundur..."
Aduh, kok langsung sih?
Aira bengong. Tak siap juga tampaknya.
"Gue... tau Aira bagus kerjanya... So, ... just stay..."
Satu cone ice cream dan segelas lemon tea kuberikan padanya. Dia menerimanya dnegan bengong, sementara kedua temannya saling bertukar isyarat.
"B-buat aku?"
"Iyalah..."
"... Masak iya dong! Raaaa... so sweeeeet..." Rena mengacaukan suasana. Siaaal! Wanda dan Radit malah juga saling bertukar isyarat.
H-hey, aku kan bukan meminta Aira menikah denganku, jadi jangan lebay lah. Kepikiran buat jatuh cinta sama dia aja enggak. Jauuuh.
"Thanks... tumben..."
"Tapi kamu nggak bisa mundur lagi, Ra."
Aira yang sudah hendak menjilati es krimnya, terkejut.
"Kamu ngatur aku ya? Nggak!"
"Oh, kamu emang keras kepala ya?"
"Eh, aku nggak bisa dosogok es krim ya? Dasar rese!"
"OK, balikin aja es krimnya!"
Dengan santai dia menjilati es krimnya lalu memberikannya kembali padaku. Idih!
"Nih! Udah rese, itungan lagi!"
"AAARGGGH! STOOOOP!" Rena, Wanda, dan Radit berteriak kesal melihat kami siap bertengkar lagi.
Dasar Queen Bee!
Emang bener deh, susah sebangku sama anak cewek berisik bin rese modelnya si Aira. Bodohnya lagi, aku terlalu baik ya, mengangkat dia jadi sekretarisku di kepengurusan Student Club. Hahaha, nggak tau ada setan baik apa yang mendadak menempel di kepalaku saat itu. Mestinya aku biarkan saja ya dia kalah dan jadi pecundang. Hehehe. Kau pecundang, SpongeBob, seperti kata Squidward Tentacles di film kartun SpongeBob Squarepants.
Tapi dorongan tim suksesku, terutama Radit, saat itu amatlah keras. Mungkin, Radit memang benar naksir Wanda, seperti gossip yang santer dibicarakan. Makanya dia berusaha menyatukan kubu-ku dan kubu Aira (dimana di situ ada Wanda). Si Ustad kagetan itu juga yang memaksaku untuk menempatkan Aira sebagai salah satu think tank kepengurusan SC tahun ini. Iya sih, Aira emang pinter BANGET. Bahkan kuakui olok-olokku atas kemampuan fisikanya yang payah juga nggak terlalu terbukti. Karena anak itu kayaknya kalau mau ulangan, bela-belain nelen buku pelajaran kali. Soalnya aku perhatikan makin lama, otaknya makin kinclong aja.
Gawat nih, kalau begitu. Bisa-bisa aku yang nanti malah jadi pecundang di akhir semester tiga ini. Kalah dari Aira? Huh, dosa yang tak termaafkan dari seorang Ronan Lukito! Nggak sudi!
Yang bikin aku bete adalah kepercayaan dirinya yang selangit. Aura pedenya yang kayaknya nggak abis-abis itu juga bahkan selalu sukses menulariku hari ke hari. Dia tampak carefree dan apa adanya. Menikmati hidup, menertawai kegagalan, hingga mengekspresikan perasaannya. Jujur, aku iri dan TERAMAT IRI. Mau rasanya aku menukar karakternya yang pede itu dengan apa saja yang kumiliki, agar aku juga bisa seperti dia.
Padahal siapa sih dia?
Keluarga Prawiraningrat memang keluarga bangsawan dan kakeknya mantan pejabat zaman dulu. Konon, keluarganya emang sudah dari kaya dari sononya. Tapi itu dulu. Dan harusnya mereka bisa lebih kaya dari itu. Tapi kakeknya terlalu jujur untuk ukuran pejabat setingkat dirjen. Tambahan lagi, beberapa perusahaan keluarga mereka juga enggan 'berkompetisi', so they lost their old money. Sekarang, mereka hanya keluarga 'orang kebanyakan',
Aira sendiri nampak tak terpengaruh apa-apa dengan kehidupan keluarganya yang jelas-jelas downgrading banget. Malah sesekali dia hanya naik bus atau dijemput kakaknya yang sudah kuliah, naik si pink jelek itu. Dia nggak branded, nggak suka muncul di pesta-pesta sejenis birthday bash di club-club yang lagi happening sekarang, atau sekedar hang out. Dia type remaja biasa banget yang lebih suka menghabiskan waktunya di Gramedia, QB, Times, Kinokuniya, Aksara, atau Zoe... for your info, dia terlalu gila buku dan nonton DVD. Dia lebih suka nongkrong di Dunkin, JCo, Krispy Kreme, atau sesekali di Coffee Bean, Brew&Co, Sour Sally, Dairy Queen, dan Quickly, ketimbang leyeh-leyeh di The Sultan atau Four Seasons (meski sekedar ngopi di cafenya). Biasa banget kan? Dan, gini hari masih dengan norak janjian makan ice cone di AW atau McD dengan geng berisiknya itu? Huhuhuw, dia terlalu BIASA untuk jadi cewek ngetop di EXIST.
Mau tahu tempat favoritnya yang lain?
Pasar mayestik (tempat dia berburu cetakan kue dan segala alat menyulamnya... gini hari masak dan nyulam? Nenek-nenek banget kaliiiJ), perpustakaan, museum, gedung kesenian Jakarta, dan TIM. Freaky banget kan? Yang agak lumayan ya, DiscTarra aja kali.
Tapi dia TETEUP LEBIH POPULER DAN MEMBUMI di Exist ketimbang gue! Lalu apa dosa gue sebenarnya sih?
It's OK, aku sudah jadi President di sini. Tapi lihat dong, di depan mata kepalaku sendiri, dia tampak lebih bisa berdekat-dekat dengan hampir semua pengurus ekskul di sini. Sedangkan aku?
"Ra, gue masukin program Save the Earth dong buat tema Pensi kita taun ini," usul Nendya, ketua Mading. Ini cewek emang go green banget deh.
"Ra, usul juga. Gimana kalau kita ngundang Hijau Daun, sekalian sama Efek Rumah Kaca dan Everybody Loves Irene untuk Pensi taun ini?" usul Jockey, si ketua Band.
"Jangan, Ra. Musiknya anomaly buat kuping gue. Peterpan aja. Gue kan fansnya Ariel. Kalo Hijau Daun sih boleh. Kan musiknya mirip tuh sama Peterpan, suara vocalisnya juga, " usul Rena, si Luna-Maya-replika.
"Ih, jijay. Sekalian aja lu ngundang Luna Maya gitu. Dasar fansnya Ariel lu! Nggak malu ya saingan sama Luna Maya?" selak Jockey dengan muka sebal,
"Hah, lu mah pantesnya ngundang Mbah Surip sama Kuburan Band aja kaleee," cibir Rosa, sesama fansnya boysband.
Aira dengan santai mencoret-coret usulan itu dengan pulpen Rapidonya di tangan kanan, sementara notesnya diletakkan di meja kami. Tangan kirinya masih memegang gelas Styrofoam berisi hot latte dari Uwak Café. Santai dan tanpa beban.
"OK, udah gue tulis semua, guys. Termasuk soal mbah Surip dan Kuburan Band juga. Gue malah mau usul ngundang Tangga juga," jawab Aira sambil terus nulis sambil ngopi.
"Hah? Serius lu?" Tanya Jockey melongok notes Aira.
"Yang mana? Tangga? Lu suka juga ya?"
"Bukan. Yang Mbah Surip sama Kuburan Band?"
"Kalau lu pada suka, ya nggak apa-apa dong..."
Aku mencibir kesal. Aku dianggap hantu, kali. Heh, DODOL, PRESIDENNYA ITU GUE, BUKAN DIA!
Sial! Aku makin jealous saja melihat dia seenak jidatnya tebar pesona gitu. Besok-besok, jangan-jangan dia kudeta lagi!
Tiba-tiba aku merasa gerah. Jangan-jangan anak ini pakai guna-guna ya? Supaya dia lebih kelihatan dari aku? Supaya dia bisa seenaknya mempercundangi aku gitu? Hih!
Aku hendak beranjak bangkit, sewaktu dia menoleh ke arahku dengan matanya yang (sok) sepolos kelinci.
"Lho, lho, kamu mau kemana, Ronan? Kan rapat Pensi belum selesai?" tanyanya heran.
Aku mendengus kesal. Tatap mata heran juga kubaca jelas dari teman-teman yang masih mengitari meja kami.
"Mau buang pusing. Kamu lanjutkan aja rapatnya, nanti hasilnya lapor ke aku!"
"E-eh, ya nggak bisa gitu dong. Kamu suka lepas tanggung jawab gitu sih!" Nah, nah, Nenek sihir mulai mengomel.
"Gue eneg, denger segala Mbah Surip dibahas!"
"Ya terus kamu maunya siapa? Mau ngundang Michael Jackson kan tinggal hantunya? Mau ngundang U2, Maroon Five, atau Rihanna?"
"Mau ngundang He Ah Lee disuruh duet sama Maylaffayza, yang nyanyi Gita Gutawa! Atau sekalian ngundang Sarah Brightman sama Andrea Bocelli. Puas?"
"Bagus! Selera kita sama. Kalau gitu, mau kamu ngusahain menghubungi mereka?"
Dasar to**l!
"Lu bisa serius nggak sih ngurus beginian? Jangan bisa lu hanya ribut doing deh!"
Dia kontan berdiri, sementara temen-temen yang lain nampak mulai bete dengan kebiasaan lama kami yang nggak bisa hilang; nafsu saling mengalahkan! "Nah, kamu sendiri dari tadi ngapain? Ngelamun nggak jelas kayak orang patah hati! President apaan kamu?"
"Kamu diam! Kamu hanya sekretaris. Itu juga kebaikan gue yang ngangkat elu yang tadinya pecundang dan BUKAN SIAPA-SIAPA! Makanya jangan belagu!" Amarahku memuncak lagi. Heran deh, nggak bisa ya dia membiarkan aku sebentar saja nggak pingin menamparnya?
Sekarang kami sudah bertatapan sengit.
"Bagus! Aku emang bukan siapa-siapa dan nggak pernah pingin jadi siapa pun di sini. Gue ya gue. Aira ya Aira. Dan asal kamu tahu ya, aku nggak pernah mengemis sama kamu buat diikutkan di kepengurusan ini! KERJASAMA KITA SELESAI, Mr. Sombong!"
Mata kami saling memancarkan bara. Tanganku sudah terkepal pingin menampar mulutnya yang gede omong itu.
"Ada masalah?" tantangnya nekad.
"Ya. Masalah besar. Masalah gue adalah KAMU!"
"Ada apa lagi? Kan aku udah mundur. Silakan angkat sekretaris baru. Bye!" Dia berbalik dengan mata yang ... riang. Luar biasa!
"Nah, guys, gue bebas tugas. Ihiyyy, ayo, Ren, kita katanya mau beli ice cone di McD Pasaraya. Yuk, sekarang. Yang lain, silakan lanjutkan rapat sama Ronan ya? Yuuuuk..." Dengan ceria dia menggamit lengan Rena, salah satu dayang-dayangnya yang nampak masih shock (seperti juga anak-anak lain) dan jadi kelihatan tolol.
Perlahan, kurasakan ada yang melorot dan meluruh di hati; percaya diriku. Satu kelemahan terbesarku...
Selesai Rapat
"Dit, lihat Aira?" bisikku pada Radit yang masih sibuk di mushala, merapikan Quran yang agak berantakan.
"Hah? Tumben ente..." jawabnya dengan lagak menyebalkan.Mengapa hari ini semua orang jadi tampak menyebalkan di mataku sih?
"Emang kamu nggak denger kita berantem lagi gara-gara rapat Pensi tadi?"
"Denger sih. Wanda yang cerita..."
"Jieee. Udah rukun ya sama Wanda?"
"Hahaha. Yang galak kan dia. Ane mah nyantai. Lagian, masak sama partner kerja nggak bisa rukun sih?"
"Partner kerja? Ngomong lu udah kayak pejabat aja. Lagian... eh, lu nyindir gue ya?"
Radit menoleh. Bengong. Kacamatanya sedikit melorot. Kalau sudah begini, dia jadi mirip Harry Potter disamber geledek.
"Nyindir apaan? Kayaknya ente konslet nih. "
"Brisik lu, kayak cewek. Udah, sekarang lu ikut gue!"
"Kemana? Lagian ente dah shalat belum?"
Aku melirik jam tangan Swiss Army-ku. "Shalat apaan? Kan tadi gue zuhur sama elu. Ashar masih lima belas menit lagi. Emangnya lu tugas ngazan lagi ya?"
Radit ketawa malu. Dia emang suka lupa gitu.
"Ikut gue ke McD Pasaraya sekarang ya?"
Radit kontan melotot."Hah? Ente mau ngebuntutin Aira ya? Ckck ck... kayaknya ente mulai kena virus merah jambu nih... pake ngebuntutin segala.Ogah ah ane!"
"Heh, virus merah jambu bapak lu! Gue..."
Tiba-tiba tenggorokanku tersendat. Aku... merasa akan ada yang timpang tanpa dia. Tanpa Aira di kepengurusan SC ini. Tadinya, alasanku memilih dia sebagai sekretaris adalah karena aku... butuh dia untuk latihan mendongjkrak rasa pedeku yang hancur sejak peristiwa kelam itu. Lagipula, dia memang bagus kerjanya. Jadi... mungkin aku harus menyelesaikan semuanya...
Sambil memakai sepatu hingga ke tempat parker, aku bercerita lamat-lamat pada Radit. Dia manggut-manggut seperti burung pelatuk mendengarkanku bercerita. Sesekali dia menyela dengan gaya bercandanya yang kadang jayus. Tapi entah mengapa, aku menganggap Radit adalah orang yang paling pas buat jadi sahabat terdekatku.
McD Pasaraya
Nah, tuh dia gerombolan si Aira. Semua sudah ganti seragam dengan baju main rupanya. Sama denganku dan Radit. Itu Aira dengan aura Queen Bee nya yang terpancar jelas.
Suatu saat, sewaktu kami lagi naik-baik saja, kami, aku dan Aira, pernah terlibat percakapan ini di ruang secretariat SC.
"Aku nggak suka banget deh sama tuh cewek," tiba-tiba Aira menggumam sambil menunjuk kea rah luar dengan matanya. Aku yang sedang buka-buka facebook melihat dengan malas.
"Oh, si Evi-Evi ini yang dulu ngegencet kamu ya?"
"He-eh. Lagaknya kayak dia yang paling Queen Bee gitu."
"Apa? Ratu Lebah?"
"Iya. Queen Bee itu istilah gitu lho, Ron. Kamu tahu nggak, seekor ratu lebah setiap selesai bersalin, pasti berteriak memanggil para tentaranya. Nah kalau ada lebah cewek yang sama-sama lagi bersalin sama dia, trus ikutan teteriakan, itu alamat si lebah cewek itu bakal menemukan ajalnya di tangan si ratu lebah."
"Hah? Sadis amat?"
"Ya gitu deh. Untung kamu bukan dilahirkan sebagai cewek ya. Hamper sebagian cewek punya naluri Queen Bee. Jujur, aku juga. Nggak boleh lihat ada yang lebih gimanaaa gitu..."
"Paham deh kalau kamu mah..."
"Eh, Dodol, aku sih suka kumat Queen Bee-ku kalau sama kamu!"
"Kok? Aku kan cowok dan bukan lebah pula!"
"Karena kamu selalu nggak mau kalah sama aku."
"Kamu juga!"
"Atau... kita emang akan gini terus kali ya, Ron?"
"Ya... terserah kamu lah. Kamu juga jadi cewek kepedean sih."
"Emang kenapa? Ada masalah?"
Saat itu aku hanya tersenyum. Sesuatu yang amat jarang kulakukan padanya. Dan dia memang agak kaget. Buru-buru dia memalingkan wajahnya.
"Nggak, ra. Nggak ada masalah. Jujur, kadang gue iri sama kamu."
Dia menoleh lagi."Iri? Sama gue? Kok bisa? Nggak penting banget sih!"
"Ah, nggak. Nggak apa-apa. Ya udahlah, jangan gegencetan lagi aja sama dia ya? Bikin malu SC aja," ujarku mengalihkan perhatian.
Dia tertawa lepas. "Ya enggaklah, masak ya enggak dong! Kan hanya nggak suka aja. Nggak lah. Aku nggak segila itu kali. Ngapain sih gegencetan? Memangnya nggak bisa ya kompetisi otak dan prestasi kayak kita?"
Nyess. Saat itu ada yang melumer di hatiku. Kompetisi otak dan prestasi? Serius? Dan dia menyukai itu?
Beneran. Nih cewek unik banget.
Mendadak ada setitik rasa di sini, aku suka pada gaya dia menyikapi persoalan. Lempeng banget. Tanpa beban. Berbanding terbalik denganku...
"Hoiiii!" Radit melambai-lambaikan tangannya di depan mataku yang bengong. Aku kontan tergeragap. Haduuuh, malah ngelamuni Aira lagi.
"Katanya mau ke McD? Ini udah di McD, terus kita mau ngapain?"
Aku tersadar. Segera kutarik Radit ke meja pemesanan. Kami melewati meja Aira yang lagi bareng Wanda dan Rena sambil ngobrol seru. Aku tahu mereka melihat kami, tapi aku cuek, berusaha cuek tepatnya. Mereka langsung menghentikan obrolan begitu melihat kami.
Aku memesan tiga cone ice cream dan tiga gelas ice lemon tea. Si radit berbisik, "Ane nggak suka McD, Bro, sebenernya. Tapi kalo ditraktir ya gak apa-apa banget!"
Menyebalkan!
Satu cone ice cream dan segelas lemon tea kuberikan pada Radit yang tersenyum berterima kasih. Aku lalu menuju meja AIra.
Aduh, kemana rasa pede yang sudah kubangun tadi?
Ra, please, jangan melongo begitu. Lihatlah kedua temanmu siap bergosip tentang kita. AYo, lakukan sesuatu...
Bismillah...
"Ra, gue mau ... kamu jangan mundur..."
Aduh, kok langsung sih?
Aira bengong. Tak siap juga tampaknya.
"Gue... tau Aira bagus kerjanya... So, ... just stay..."
Satu cone ice cream dan segelas lemon tea kuberikan padanya. Dia menerimanya dnegan bengong, sementara kedua temannya saling bertukar isyarat.
"B-buat aku?"
"Iyalah..."
"... Masak iya dong! Raaaa... so sweeeeet..." Rena mengacaukan suasana. Siaaal! Wanda dan Radit malah juga saling bertukar isyarat.
H-hey, aku kan bukan meminta Aira menikah denganku, jadi jangan lebay lah. Kepikiran buat jatuh cinta sama dia aja enggak. Jauuuh.
"Thanks... tumben..."
"Tapi kamu nggak bisa mundur lagi, Ra."
Aira yang sudah hendak menjilati es krimnya, terkejut.
"Kamu ngatur aku ya? Nggak!"
"Oh, kamu emang keras kepala ya?"
"Eh, aku nggak bisa dosogok es krim ya? Dasar rese!"
"OK, balikin aja es krimnya!"
Dengan santai dia menjilati es krimnya lalu memberikannya kembali padaku. Idih!
"Nih! Udah rese, itungan lagi!"
"AAARGGGH! STOOOOP!" Rena, Wanda, dan Radit berteriak kesal melihat kami siap bertengkar lagi.
Dasar Queen Bee!
Home sweet Home ( Serial Exist 4 )
Dua anak muda sedang mendengarkan lagu yang sama di tempat yang berbeda. Gadis itu menekan tombol reply di Portable Disc nya. Lagu yang sama yang sudah terputar lima kali bolak-balik. Untung saja nggak kusut (emangnya kaset?). "Home" suaranya Michael Buble berkumandang lagi (dan lagi dan lagi...). Pandangannya menerawang ke langit-langit kamarnya yang tak terlalu luas. Kamar itu berwarna salem dengan isinya yang didominasi buku, VCD, DVD, CD, dan hasil-hasil kreativitasnya. Ada hasil sulaman kruisteek, ada hasil patchwork and quilting, origami dan kirigami, dan beberapa lukisan serta desain baju. Bagi yang belum tahu, sini saya jelaskan. Kruisteek itu adalah seni sulam-menyulam di atas kain berjela-jela yang namanya kain strimin. Patchwork dan Quilting adalah seni kerajinan dengan memanfaatkan kain perca. Origami adalah seni melipat kertas yang berasal dari Jepang. Kalau kirigami adalah seni menggunting kertas yang juga berasal dari Jepang. Balik ke si gadis lumayan cantik yang lagi melamun tadi. Oh, no, dia sama sekali tidak sedang jatuh cinta. Dia hanya sedang merenungi, kira-kira bener nggak sih dia harus terlibat sebegitu jauh dengan misi ini? Kalau mengingat betapa cowok itu mencela keluarganya, pingin rasanya dia menyumpal mulut cowok itu dengan kaus kaki anak bola yang udah nggak dicuci seminggu lamanya. Mungkin kurang. Ya, sekalian sama baju bekas anak-anak bola tanding! Biar pingsan abadi tu orang! Coba bayangkan apa yang ditulis cowok itu tentang keluarganya di inbox message facebooknya. Kalau bukan karena kamu yang pintar, kayaknya kamu nggak cocok jadi anak Exist. Mengingat keluargamu yang 'biasa banget', susah kan ya, buat kamu untuk menyesuaikan diri dengan anak-anak Exist? Ia menjawabnya dengan (sok) wise (padahal hatinya sakit bukan main): Baguslah kalau kamu mengakui aku pintar, tapi asal kamu tahu, aku tidak pernah malu punya keluarga yang 'biasa banget' buat ukuran anak Exist. Di luar sana, banyak anak yang tetap bangga meski orang tuanya tidak punya apa-apa. Yang penting kami selalu punya 'rumah' untuk pulang. Seorang penulis dari Inggris (sayang aku lupa namanya) pernah bilang: a house is built by hands, while a home is built by hearts. And we prefer have a home... home sweet home. Aku bangga sama keluargaku. Mereka yang membangun karakterku. Mereka yang membuatku selalu rindu pulang ke rumah, karena kehangatannya. Karena kehangatan cinta kasih merekalah, aku tak pernah berpikir untuk menjadi demikian popular hanya untuk cari perhatian. Merekalah yang membuatku punya fighting spirit dan kepercayaan diri. First of all, mereka mengajarkanku selalu kembali kepada Tuhan sehingga aku merasa aman dan nyaman. Btw, nggak apa-apa banget kok, kalau kamu nyesel ngangkat aku jadi sekretarismu. Asal kamu tahu, aku sama sekali nggak pernah punya niat untuk jadi makhluk terbeken di Exist. Sama seperti kamu, aku hanya sedang berpikir untuk mengisi masa remajaku dengan sebanyak mungkin hal yang challenging dan bermanfaat. Cognito ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada. Aku melakukan sesuatu, maka aku ada. Gadis itu, Aira, merasakan ada bening di sudut matanya. Bagaimanapun ia tak bisa menerima keluarganya dianggap sebagai 'nggak pantes nyekolahin anak di Exist'. Keluarganya adalah orang-orang yang punya kualitas,meski bukan orang yang kaya tujuh turunan. By the way, buat apa kaya tapi otaknya nggak ada? Kalau tidak ingat misi yang sedang ia pegang, ia sudah beneran mundur dari kepengurusan SC kali...
"Dia itu sebenarnya minderan, Ra. Lihat deh, matanya selalu terlihat gloomy. Dia malu karena sebagian kecil siswa Exist sudah tahu kalau ibunya adalah istri ketiga ayahnya yang pengusaha kaya itu", kata Wanda.
"Kamu suka gossip juga ya?"elak Aira kikuk. Males aja ngomongin musuh.
"Bukan. Ini adalah latar belakang kenapa misi ini harus tetap dijalankan, Neng. Dan aku sama sekali bukan tukang gossip. Aku tahu hal ini dari Radit. Dia itu masih saudara jauhnya si Ronan. Dan... ibunya yang sekarang itu adalah ibu tirinya, istri pertama bapaknya. Yang kelahiran Setu Babakan itu ya ibu yang sekarang. Ibu kandungnya sudah dicerai bapaknya. Nah, si Ronan sebenernya bete banget sama ibu tirinya ini. Dia memandang, asal usul si ibu tiri ini nggak sehebat si ibu kandungnya dia."
"Hah? Emang emak kandungnya orang mana?Suku Inuit? Atau suku Maori?"
"Ih, kamu sinis ya? Ibu kandungnya itu indo Jerman, Jawa-Jerman. Kata orang, cantiknya kayak Sophia Latjuba. Tahu Sophia Latjuba kan?"
"Berisik. Ya taulah! Hm... I just wondering why, kenapa sih ada anak yang mempersoalkan segala keturunan? Ada yang salah dengan keturunan Setu Babakan? Kan belum tentu juga si Setu Babakan lebih buruk daripada si Indo Jerman?"
"Nah tu dia.Si Ronan kan anaknya rada tinggi hati. Dia benci banget sama ibu tirinya yang menurut dia nggak elit dan nggak cocok jadi istri pengusaha. Padahal si ibu ini baik banget gitu sama dia. Udah kayak anak sendiri, tapi dasar dia aja yang belum terbuka matanya."
"Terus kenapa gue dilibatkan?"
"Karena kamu punya karakter buat bikin dia terlecut pedenya, buat ngedongkrak pedenya dia..."
"Hah? Emangnya kunci Inggris? Dodollll... gue dijadikan alat!"
"Bukan begitu, ra. Kamu dari segi otak, sama dengan dia. Jadi imbang gitu deh. Dan... " wanda seperti terlepas omong. Gesturnya jadi mendadak kikuk.
Aira tertegun."Dan apa, Nda?"
"Dan... ah, nggak. Bukan apa-apa... Oh ya, Ronan katanya punya sixth sense lho. Kata Radit ini sih..."
"Radit mollloooo... cape deeeh. Lagian apa hubungannya gue sama sixth sense nya si Ronan?"
Wanda jadi blushing, dan sedetik kemudian ngamuk-ngamuk nggak rela digodain begitu. "Heh, apa hubungannya gue sama sixth sensenya si Ronan?" desak Aira.
"Yaaa... nggak ada sih... iiih..." Wanda jadi bingung juga.
Di tempat yang lain, di sebuah kompleks perumahan mewah di utara Jakarta, seorang cowok sedang mendengarkan lagu yang sama di iPhone-nya. "Home". Padahal sebelumnya dia nggak terlalu suka Michael Buble, yang menurutnya agak terlalu opa-opa, dan gayanya Frank Sinatra abis. Tahu Frank Sinatra? Dia itu penyanyi legendaries Amerika, yang ngetop tahun 40-60an. Dia dikenang sampai kini, bahkan konon para personil band hari gini mengaku terinspirasi olehnya. By the way, cowok itu lebih suka Jamie Cullum ketimbang Mr. Buble. Tapi membaca balasan yang masuk di inbox message di facebooknya, ia menjadi mendadak ingin dengar lagu itu. Tentang rumah. Rumah hati, rumah jiwa. Home, not a house. Not only a luxury house. Rumah jiwa yang lama tak ia miliki. Rumah jiwa yang harusnya ada di dekatnya, namun terasa jauh. Dan gadis itu dengan sukses telah menyentilnya. Hatinya ngilu. Gadis itu menyentilnya tentang keluarga. Ya, kalau ada keluarga yang hangat dan menghangatkan, nggak perlu lagi teteriakan soal eksistensi di luar sana. Ronan, cowok itu,memutar kembali film di dalam benaknya. Perceraian memilukan itu. Status ibunya, yang meski cantik dan terpelajar, juga berasal dari keluarga elit, yang hanya istri ketiga. Lewat nikah sirri pula! Tamparan yang amat menyakitkan bagi dirinya yang baru beranjak remaja. Mendadak, saat itu, Ronan benci ibunya. Benci ketidaberdayaan perempuan yang ngakunya terpelajar itu untuk memperjuangkan sebuah pernikahan yang sah secara Negara. Itu sebabnya ia memilih ikut ayahnya. Di sisi lain, keputusannya itu mempertemukannya dengan ibu Edah, istri pertama ayahnya. Sang permaisuri di 'kerajaan' Hendratman Lukito. Yang berasal dari kampung, tapi istimewa. Ia tulus dan tanpa pretense. Ia dengan anggun memerangi perasaannya sendiri untuk menerima Ronan. Di rumah ini, Ronan mendadak merasa 'bukan siapa-siapa'. Ada dua kakaknya dari bu Edah, yaitu Kak Nilam dan Kak Sari. Meski bu Edah dan ayah tak sama sekali membedakannya, namun Ronan merasa terkepung dalam minder, marah, kecewa, dan sakit hati. Kalau saja ibunya bukan istri ketiga dengan pernikahan sirri. Kalau saja perceraian itu tak terjadi, lantaran ibu ngotot balik ke Bremerhaven di Jerman sono. Kalau saja istri pertama ayah bukan bu Edah. Tapi semua kalau saja menjadi tak ada gunanya. Ronan harus menerima kenyataan ini. Maka ia terseok-seok menatap masa depannya di Exist, yang sudah mengenalnya sebagai 'anak emas' keluarga Lukito sejak TK! Beruntunglah ia menemukan sepupu jauhnya, Radit di situ. Supremasinya terusik ketika di grade sepuluh, ada siswi baru bernama Khairani Prawiraningrat yang 'bukan siapa-siapa', dan langsung merebut perhatian seluruh Exist karena cerdas, aktif, dan supel. Tambahan lagi, karakternya sebagai remaja emang top banget. Dia sanggup bergaul dengan siapa saja, tapi tidak terlarut. Dan... dia pede abis. Sejujurnya, Ronan iri betul pada Aira. Iri berubah jadi dengki dan ingin menjatuhkannya. Selama ini, dia selalu menjadi sosok pujaan meski dia cenderung bersikap tertutup. Tapi mendadak posisinya tergeser oleh Aira. Rasa negatif itu entah kenapa makin bertambah. Apalagi setelah ayah berbicara padanya tentang suatu hal. Yang amat menyakitkan. Dan menyebalkan juga. Jadi, apa yang harus ia lakukan sekarang? Ronan manyun waktu menyadari, kenapa juga dia jadi mikirin banget si Aira rese itu?
Senin, 24 Agustus 2009
I Believe My Heart (Serial Exist 5)
I Believe My Heart (Serial Exist 5)
Senja masih muda di Exist
Masih ingat Kirana? Itu lho, si Miss Drama Queen, gengnya Aira, yang kalau ketawa aja mesti diatur dulu. Alasannya, teteup, biar lebih memberikan efek dramatis. Gak jelas efek dramatis seperti apa yang doski maksud, mengerikan sih iya. Nah, balik ke Kirana. Hari ini, sehabis latihan drama eh... teater, si Kirana bela-belain mencari Aira yang sedang mojok di Perpust. Biasa deh, ini salah satu hobinya Aira. And FYI, yang namanya perpust Exist itu keren dan luengkaaap banget. Segala koleksi buku dan film ada, maksudnya hampir semua ada. Malah komik Petruk Gareng juga ada lho, sama komik Mimin. Ini kesukaannya si Ronan. Dia kalau baca komik Petruk Gareng bisa tahan bergadang semalam suntuk tuh. Nah, sekarang, Aira sedang menikmati Grotta Azzura, roman keren karya Sutan takdir Alisjahbana. Di mejanya juga ada Cecilia dan Malaikat Ariel-nya Jostein Gaarder dan Serial si Nida karyanya Dian Yasmina Fajri (ehem...).
"Ra... Ra..." suara Kirana yang lemah lembut terdengar sayup-sayup sampai di telinga Aira (soalnya lagi sambil dengerin iPod sih).
"Hoiii, budeg ya? RAAA!"
Efek dramatis nya sungguh terasa. Bukan hanya Aira yang nyaris terjeengkang kaget. Tapi juga seluruh manusia di situ, termasuk Miss Ati, sang librarian, semua serempak bersuara, "SSsstttt!"
Kirana kontan menutup mulutnya dengan saputangan bermotif Wilbur (si babi dalam film 'Charlotte's Web). "Ooopsss, didn't mean it, maaaap".
"Ngapain ke sini, Na?" Tanya Aira heran. Setahunya, Kirana termasuk anak yang males banget baca. Dia mah taunya fashion, make up, sama tempat-tempat seru buat gaulJ.
"Emang nggak boleh?" rajuk Kirana sambil menarik bangku kosong di sebelah Aira.
"Boleh sih, tapi kayaknya nggak-elu-banget deh... secara..."
Mendadak Aira melihat kilatan mata tricky-nya si Nana Kirana ini.
"Hahaha... lu emang jenius ya? Atau... jangan-jangan elu udah ketularan si Ronan ya punya sixth sense?"
Aira melengos malas. "Beuh, lu kata gue cenayang? Sodaraan sama Ronan pula? Mendingan gue sodaraan sama Dumbledore kaleee... Kenapa lu, Na?"
Nana membolak-balik buku-buku di meja Aira dengan wajah clueless. Buku memang bener-bener nggak masuk di kepalanya. Orang buku pelajaran aja males, apalagi yang beginian.
"Buruan deh. Gue bete tau, liat muka sok sinetron lu itu. Ada apa? Lu naksir cowok mana lagi?"
Hahaha, ini juga satu hobi si Nana. Naksir cowok sebulan sekali ganti, naksir doang sih. Kayak beli voucher hape saking seringnya dia ganti labaan.
"Ra, gue peratiin nih, hubungan lu sama si ice prince itu makin membaik ya? Makin mencair gitu?"
Aira terkikik halus. "Mencair? Es kaleee..."
"Aira, serius ah..."
"Aira mendorong bukunya ke tengah, dan mencopot iPod-nya secara resmi. "Gak tau sih. Yang jelas, gue kayaknya gak bisa perang secara frontal sama dia, Na. Gue pake siasat perang-nya Tsun Zu aja kali ya?"
Nana bengong. Clueless lagi, Tsun Zu itu sejenis bintang pelem kung fu kah? *heran kok yang kayak gini bisa masuk Exist ya?*.
"Heh, tau Tsun Zu gak lu? Males deh gue neranginnya ke elu. Lu googling atau nge-wiki deh ntar malem. Jangan shopping Anna Sui online mulu lu".
Kirana manyun dengan muka sepet. Gini deh resiko berteman dengan cewek paling pinter di Exist. Kudu rela dijudesin dengan mulut sambelnya kalau dia lagi nggak mood.
"Back to topic ya, Na. Gue gak tau apa ini gue yang terpaksa berbaik-baik dengan dia, atau secara natural, gue udah menganggapnya biasa, sebagai bagian dari nasib apes gue. Emang kenapa?"
"Lu maafin dia, Ra? Kan dia yang ngedesain black campaign tentang lu waktu Election day kemarin?"
"Ya. A little bit. Tapi gue liat dia juga aneh sih. Masak sekalian bikin black campaign tentang dirinya juga sih? Buat apa coba?"
"Hah? Itu tulisan dia? Serius lu?"
"Na, gue peringatin elu ya, jangan sekali-kali menaikkan suara di sini kalau gak mau ditendang Miss Ati keluar! Biasa aja kenapa?"
"Nggak, sorry... sorry. Gue hanya shock aja. Kok bisa? Apa gunanya coba? Dan... lu tau dari mana?"
Aira memutar matanya. Sebenarnya dia lagi males aja ngomongin Ronan. Setelah sebuah kenyataan yang 'basi dan menjengkelkan' terbentang di depan matanya. Bagus!
"Ya bisalah, masak ya bisadong! Sebetulnya itu taktik si Ronan buat cari perhatian para pemilih. Soalnya lu kan tau, secara survey, sebelumnya gue unggul. And you have already known before. Gue. Lebih. Populer. Dari. Dia". Ada penekanan lebih pada kalimat ini. Aira seperti merasakan sakit hatinya kembali membadai terhadap cowok itu.
"Iya terus?"
"Dia membombing inbox message facebook gue, blackberry gue, dan hp gue, dengan sederet ancaman, bahwa kalau dia gak dapet itu jabatan, which is larinya tu jabatan ke gue, dia nggak akan tinggal diam. Dia akan makin mendiskreditkan keluarga gue sebagai spesies yang gak pantes masuk sini. Na, gue... gak apa-apa banget kalau dia nyela gue katro. Tapi gue nggak akan pernah membiarkan dia nyela-nyela keluarga gue..."
Nana menahan nafas saking kagetnya. Kali ini dia lupa scenario The Drama Queennya yang jadi andalan.
"Sehina-hinanya keluarga elu, misalnya..."
Nana udah keburu melotot. Jadinya Aira geli menahan tawa.
"... lu nggak akan membiarkan mereka dihinakan di depan umum. Karena dari mereka lu tumbuh. Dari mereka lu mewarisi segala yang terbaik yang lu miliki saat ini. Itu yang gue jaga. Kehormatan keluarga. Lu lihat kan selama ini dia enak banget nyela-nyela keluarga gue lewat wall facebook gue. Orang paling bego juga tau, kalau obrolan di wall itu akan emerge dan semua orang di dunia pasti bisa baca."
"Kok dia tega gitu ya, Ra? Unfair..."
"Oh, c'mon, babe, mana ada sih di akte kelahiran kita, ada tulisan, selamat datang ke dunia, kamu akan menjalani kehidupan yang fair dan always happy ending just like a fairy tale?"
"Trus lu gak melakukan sesuatu, Ra? Plizzzz deh, Ra, gue lama-lama bete lihat saint-y look lu itu. Sok baik. Padahal lu kan marah dan sebel juga kan sama dia?"
"Jelas, Na. Gue sebel, nangis, kesel, bete, merasa dipercundangi, ... tapi... gue janji dari kecil, bakal melakukan apa yang gue bisa untuk menjaga keluarga gue. Gue melakukan sesuatu? Nggak, Na. gue hanya nangis di mushala, ditemenin Wanda."
"Kok nggak sama gue?"
"Heh, elu kan wara-wiri nyari dukungan buat gue, sama Dina dan Rena. Lu baik banget, Na. Gue thanks banget kalian smeua mau support gue yang bukan siapa-siapa ini."
"Addduuuh, Aira, lu emang beneran ibu peri yang jatuh ke bumi ya? Huhuhu..."
"Udah deh, jangan mewek di sini! Ntar dikirain orang, gue abis maki-maki elu! Nana, gue belajar keras untuk ngelupain apaaa yang dia lakukan ke gue. Susah banget. Tapi kalau lu tau kenapa gue melakukan itu, lu akan berpikir sama dengan gue."
"Emang kenapa?"
"Dia perlu sebuah achievement, pencapaian, buat biar dia dilirik sama ibunya... yang udah jauh di Jerman, udah married lagi..."
"Jadi dia sekarang tinggal sama ibu tirinya?"
"Yes. Dan gue sebel banget waktu tau fact selanjutnya adalah, ternyata si ibu tiri ini baiknya setengah mati sama dia. Nggak ada tuh type dia kayak ibu tiri yang main potong-rebus sama anak tirinya, kayak di dongeng-dongeng. Sementara si Ronan ini ngeyel tetap berlaku buruk sama dia. Dan anehnya lagi, pilihan untuk tinggal sama ayah dan ibu tirinya ini dia juga yang bikin. Gue rasa gue capek sama anak nggak stabil kayak dia!"
"Tapi kayaknya sekarang lu dan dia baik-baik aja?"
"Kan dia lagi melakukan lobi politik supaya gue teteup nge-back up kepemimpinan dia. You know lah..."
"Kayaknya dia kok jadi nggak pede-an gitu?"
"Ya iyalah. If you know the next fact yang bikin gue tambah mual..."
Mata Nana membulat, penasaran.
"Apaan tuh, Ra?"
Aira menarik nafas panjang. "It's really unbelievable. Tapi ya gitu deh. Dia bilang ke gue, kalau sebelumnya alasan dia buat mencegah gue mundur, karena dia takut gue jadi oposisi, dan menggoyang kebijakan-kebijakan dia. Nah, dari situ aja udah keliatan dia lemah. Gak pede. Dan..."
"Apa, Ra?" Nana makin terlihat norak saat itu. Seperti wartawan infotainment yang sibuk nyari tahu kasus ManoharaJ.
Aira meremas iPodnya. Ngomong nggak ya? Orang si Wanda aja diomongin tadi pagi, ngucap-ngucapnya panjang banget.
"Na, kalau lu hidup di dalam sebuah keluarga yang hari gini masih mikir tentang bibit, bebet, dan bobot gimana?"
"Ya baguslah. Bukannya semua keluarga baik-baik begitu?"
"Kalau sampai mengatur dengan siapa elu married kelak?"
Hah? Mulut Nana langsung melongo.
Aira melengos bete. Yah, si Nana clueless lagih, lagih, dan lagih.
"Na, gue dan dia sudah dijanjikan kedua keluarga untuk ditunangkan suatu saat nanti..."
Mendadak mata Nana berbinar-binar bahagia. "Aduuuh, selamat ya, Raaa... Kamu harusnya happy dong?"
"Diam deh. Happy belah mananya, coba? Gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Dia juga. Kita sama-sama nggak tau hal ini sebelumnya dan baru dapet dari ayah kita masing-masing... Gue... belum bisa nerima hal ini..."
"Raaa, lu lihat sisi baiknya deh. Dan, h-hey, kalian kan bisa mencoba?"
"Mencoba pacaran, jadian menurut lu? Dodol! Naaa, gue udah bilang berkali-kali, gue nggak mau pacaran. Dengan alasan logis gue, dan dengan kesadaran penuh. Gue nggak mau terjebak dalam hubungan nggak jelas. Gue...yakin, semua akan ada waktunya. Termasuk soal nikah dan dengan siapa, dengan cara apa kita menikah nantinya."
"Aaargggh, malees. Lu udah ketularan Wandaaa..." erang Nana kecewa.
"Gue nggak ketularan siapa-siapa. Gue mengkajinya dari apa yang gue baca, dengar, dan amati.dan gue mudah-mudahan bisa konsisten dengan pilihan gue ini..."
"Setan ada dimana-mana lho, Ra. Bisa aja suatu saat kalian tergoda untuk pacaran?"
"InsyaAllah nggak, Na. Gue akan coba menyamakan persepsi dengan dia. Itulah. tadinya gue masih ada nafsu dendam buat ngebalas semua perlakuan dia ke gue. Tapi, gue harus menghargai keluarga gue yang berbesar harapan bahwa gue bakal mau sama dia. Gue... harus menghormati keluarga gue, orang tua gue, yang pantesan selalu nanya tentang dia. Meskipun gue nggak suka..."
"Jadi lu nerima?"
"Gue bilang sama orang tua gue, I'll think it later. Gue ngotot harus menyamakan persepsi dulu dengan dia. Gue harap dia bisa dipercaya... dan gue tambah pusing waktu tahu bahwa Radit sebenarnya juga udah tau hal ini dari Ronan. Keterlaluan! Pantesan, kok gue yang 'dikorbanin' harus masuk ke missi aneh ini? Urusan apa gue sama dia? Mau dia ada masalah apa kek, mau bunuh diri kek, lah gue kan bukan siapa-siapanya? Dodolnya Wanda juga nggak tahu. Dia juga sebenernya merasa, kenapa gue? Dia hanya dikasih clue awal bahwa ada hubungan saudara sangat jauuuuh banget antara gue dan Ronan, which is kemungkinan banget buat dijodohkan seperti layaknya kebiasaan keluarga-keluarga kebesaran gitu."
"Missi?"
"Ya. Missi buat mengembalikan pedenya dia. Buat mendukung kepengurusan dia di SC. Nana, lagi-lagi gue... merasa life is totally unfair to me..."
Sejujurnya, baru kali ini Nana menemukan kelelahan yang sangat di mata Aira. "Gue capek, Na..."
Dengan penuh simpati, Nana mengusap-usap punggung Aira. Apa nggak usah aja ya dia bicarakan perasaannya yang diam-diam baru mekar... terhadap Radit?
Di mushala, Wanda marah pada Radit, disaksikan si Widodo.
Dan satu rak di belakang rak tempat dimana ada meja Aira dan Nana, di deretan komik, ada sebuah meja dengan setumpuk komik Petruk Gareng dan Mimin. Ada seorang cowok ganteng sedang memijit-mijit kepalanya sendiri. Pusing.
Padahal sebelumnya ia sudah berniat banget mengirim sms ke Aira.
Ra, I believe my heart.
Saved it to draft.
Senja masih muda di Exist
Masih ingat Kirana? Itu lho, si Miss Drama Queen, gengnya Aira, yang kalau ketawa aja mesti diatur dulu. Alasannya, teteup, biar lebih memberikan efek dramatis. Gak jelas efek dramatis seperti apa yang doski maksud, mengerikan sih iya. Nah, balik ke Kirana. Hari ini, sehabis latihan drama eh... teater, si Kirana bela-belain mencari Aira yang sedang mojok di Perpust. Biasa deh, ini salah satu hobinya Aira. And FYI, yang namanya perpust Exist itu keren dan luengkaaap banget. Segala koleksi buku dan film ada, maksudnya hampir semua ada. Malah komik Petruk Gareng juga ada lho, sama komik Mimin. Ini kesukaannya si Ronan. Dia kalau baca komik Petruk Gareng bisa tahan bergadang semalam suntuk tuh. Nah, sekarang, Aira sedang menikmati Grotta Azzura, roman keren karya Sutan takdir Alisjahbana. Di mejanya juga ada Cecilia dan Malaikat Ariel-nya Jostein Gaarder dan Serial si Nida karyanya Dian Yasmina Fajri (ehem...).
"Ra... Ra..." suara Kirana yang lemah lembut terdengar sayup-sayup sampai di telinga Aira (soalnya lagi sambil dengerin iPod sih).
"Hoiii, budeg ya? RAAA!"
Efek dramatis nya sungguh terasa. Bukan hanya Aira yang nyaris terjeengkang kaget. Tapi juga seluruh manusia di situ, termasuk Miss Ati, sang librarian, semua serempak bersuara, "SSsstttt!"
Kirana kontan menutup mulutnya dengan saputangan bermotif Wilbur (si babi dalam film 'Charlotte's Web). "Ooopsss, didn't mean it, maaaap".
"Ngapain ke sini, Na?" Tanya Aira heran. Setahunya, Kirana termasuk anak yang males banget baca. Dia mah taunya fashion, make up, sama tempat-tempat seru buat gaulJ.
"Emang nggak boleh?" rajuk Kirana sambil menarik bangku kosong di sebelah Aira.
"Boleh sih, tapi kayaknya nggak-elu-banget deh... secara..."
Mendadak Aira melihat kilatan mata tricky-nya si Nana Kirana ini.
"Hahaha... lu emang jenius ya? Atau... jangan-jangan elu udah ketularan si Ronan ya punya sixth sense?"
Aira melengos malas. "Beuh, lu kata gue cenayang? Sodaraan sama Ronan pula? Mendingan gue sodaraan sama Dumbledore kaleee... Kenapa lu, Na?"
Nana membolak-balik buku-buku di meja Aira dengan wajah clueless. Buku memang bener-bener nggak masuk di kepalanya. Orang buku pelajaran aja males, apalagi yang beginian.
"Buruan deh. Gue bete tau, liat muka sok sinetron lu itu. Ada apa? Lu naksir cowok mana lagi?"
Hahaha, ini juga satu hobi si Nana. Naksir cowok sebulan sekali ganti, naksir doang sih. Kayak beli voucher hape saking seringnya dia ganti labaan.
"Ra, gue peratiin nih, hubungan lu sama si ice prince itu makin membaik ya? Makin mencair gitu?"
Aira terkikik halus. "Mencair? Es kaleee..."
"Aira, serius ah..."
"Aira mendorong bukunya ke tengah, dan mencopot iPod-nya secara resmi. "Gak tau sih. Yang jelas, gue kayaknya gak bisa perang secara frontal sama dia, Na. Gue pake siasat perang-nya Tsun Zu aja kali ya?"
Nana bengong. Clueless lagi, Tsun Zu itu sejenis bintang pelem kung fu kah? *heran kok yang kayak gini bisa masuk Exist ya?*.
"Heh, tau Tsun Zu gak lu? Males deh gue neranginnya ke elu. Lu googling atau nge-wiki deh ntar malem. Jangan shopping Anna Sui online mulu lu".
Kirana manyun dengan muka sepet. Gini deh resiko berteman dengan cewek paling pinter di Exist. Kudu rela dijudesin dengan mulut sambelnya kalau dia lagi nggak mood.
"Back to topic ya, Na. Gue gak tau apa ini gue yang terpaksa berbaik-baik dengan dia, atau secara natural, gue udah menganggapnya biasa, sebagai bagian dari nasib apes gue. Emang kenapa?"
"Lu maafin dia, Ra? Kan dia yang ngedesain black campaign tentang lu waktu Election day kemarin?"
"Ya. A little bit. Tapi gue liat dia juga aneh sih. Masak sekalian bikin black campaign tentang dirinya juga sih? Buat apa coba?"
"Hah? Itu tulisan dia? Serius lu?"
"Na, gue peringatin elu ya, jangan sekali-kali menaikkan suara di sini kalau gak mau ditendang Miss Ati keluar! Biasa aja kenapa?"
"Nggak, sorry... sorry. Gue hanya shock aja. Kok bisa? Apa gunanya coba? Dan... lu tau dari mana?"
Aira memutar matanya. Sebenarnya dia lagi males aja ngomongin Ronan. Setelah sebuah kenyataan yang 'basi dan menjengkelkan' terbentang di depan matanya. Bagus!
"Ya bisalah, masak ya bisadong! Sebetulnya itu taktik si Ronan buat cari perhatian para pemilih. Soalnya lu kan tau, secara survey, sebelumnya gue unggul. And you have already known before. Gue. Lebih. Populer. Dari. Dia". Ada penekanan lebih pada kalimat ini. Aira seperti merasakan sakit hatinya kembali membadai terhadap cowok itu.
"Iya terus?"
"Dia membombing inbox message facebook gue, blackberry gue, dan hp gue, dengan sederet ancaman, bahwa kalau dia gak dapet itu jabatan, which is larinya tu jabatan ke gue, dia nggak akan tinggal diam. Dia akan makin mendiskreditkan keluarga gue sebagai spesies yang gak pantes masuk sini. Na, gue... gak apa-apa banget kalau dia nyela gue katro. Tapi gue nggak akan pernah membiarkan dia nyela-nyela keluarga gue..."
Nana menahan nafas saking kagetnya. Kali ini dia lupa scenario The Drama Queennya yang jadi andalan.
"Sehina-hinanya keluarga elu, misalnya..."
Nana udah keburu melotot. Jadinya Aira geli menahan tawa.
"... lu nggak akan membiarkan mereka dihinakan di depan umum. Karena dari mereka lu tumbuh. Dari mereka lu mewarisi segala yang terbaik yang lu miliki saat ini. Itu yang gue jaga. Kehormatan keluarga. Lu lihat kan selama ini dia enak banget nyela-nyela keluarga gue lewat wall facebook gue. Orang paling bego juga tau, kalau obrolan di wall itu akan emerge dan semua orang di dunia pasti bisa baca."
"Kok dia tega gitu ya, Ra? Unfair..."
"Oh, c'mon, babe, mana ada sih di akte kelahiran kita, ada tulisan, selamat datang ke dunia, kamu akan menjalani kehidupan yang fair dan always happy ending just like a fairy tale?"
"Trus lu gak melakukan sesuatu, Ra? Plizzzz deh, Ra, gue lama-lama bete lihat saint-y look lu itu. Sok baik. Padahal lu kan marah dan sebel juga kan sama dia?"
"Jelas, Na. Gue sebel, nangis, kesel, bete, merasa dipercundangi, ... tapi... gue janji dari kecil, bakal melakukan apa yang gue bisa untuk menjaga keluarga gue. Gue melakukan sesuatu? Nggak, Na. gue hanya nangis di mushala, ditemenin Wanda."
"Kok nggak sama gue?"
"Heh, elu kan wara-wiri nyari dukungan buat gue, sama Dina dan Rena. Lu baik banget, Na. Gue thanks banget kalian smeua mau support gue yang bukan siapa-siapa ini."
"Addduuuh, Aira, lu emang beneran ibu peri yang jatuh ke bumi ya? Huhuhu..."
"Udah deh, jangan mewek di sini! Ntar dikirain orang, gue abis maki-maki elu! Nana, gue belajar keras untuk ngelupain apaaa yang dia lakukan ke gue. Susah banget. Tapi kalau lu tau kenapa gue melakukan itu, lu akan berpikir sama dengan gue."
"Emang kenapa?"
"Dia perlu sebuah achievement, pencapaian, buat biar dia dilirik sama ibunya... yang udah jauh di Jerman, udah married lagi..."
"Jadi dia sekarang tinggal sama ibu tirinya?"
"Yes. Dan gue sebel banget waktu tau fact selanjutnya adalah, ternyata si ibu tiri ini baiknya setengah mati sama dia. Nggak ada tuh type dia kayak ibu tiri yang main potong-rebus sama anak tirinya, kayak di dongeng-dongeng. Sementara si Ronan ini ngeyel tetap berlaku buruk sama dia. Dan anehnya lagi, pilihan untuk tinggal sama ayah dan ibu tirinya ini dia juga yang bikin. Gue rasa gue capek sama anak nggak stabil kayak dia!"
"Tapi kayaknya sekarang lu dan dia baik-baik aja?"
"Kan dia lagi melakukan lobi politik supaya gue teteup nge-back up kepemimpinan dia. You know lah..."
"Kayaknya dia kok jadi nggak pede-an gitu?"
"Ya iyalah. If you know the next fact yang bikin gue tambah mual..."
Mata Nana membulat, penasaran.
"Apaan tuh, Ra?"
Aira menarik nafas panjang. "It's really unbelievable. Tapi ya gitu deh. Dia bilang ke gue, kalau sebelumnya alasan dia buat mencegah gue mundur, karena dia takut gue jadi oposisi, dan menggoyang kebijakan-kebijakan dia. Nah, dari situ aja udah keliatan dia lemah. Gak pede. Dan..."
"Apa, Ra?" Nana makin terlihat norak saat itu. Seperti wartawan infotainment yang sibuk nyari tahu kasus ManoharaJ.
Aira meremas iPodnya. Ngomong nggak ya? Orang si Wanda aja diomongin tadi pagi, ngucap-ngucapnya panjang banget.
"Na, kalau lu hidup di dalam sebuah keluarga yang hari gini masih mikir tentang bibit, bebet, dan bobot gimana?"
"Ya baguslah. Bukannya semua keluarga baik-baik begitu?"
"Kalau sampai mengatur dengan siapa elu married kelak?"
Hah? Mulut Nana langsung melongo.
Aira melengos bete. Yah, si Nana clueless lagih, lagih, dan lagih.
"Na, gue dan dia sudah dijanjikan kedua keluarga untuk ditunangkan suatu saat nanti..."
Mendadak mata Nana berbinar-binar bahagia. "Aduuuh, selamat ya, Raaa... Kamu harusnya happy dong?"
"Diam deh. Happy belah mananya, coba? Gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Dia juga. Kita sama-sama nggak tau hal ini sebelumnya dan baru dapet dari ayah kita masing-masing... Gue... belum bisa nerima hal ini..."
"Raaa, lu lihat sisi baiknya deh. Dan, h-hey, kalian kan bisa mencoba?"
"Mencoba pacaran, jadian menurut lu? Dodol! Naaa, gue udah bilang berkali-kali, gue nggak mau pacaran. Dengan alasan logis gue, dan dengan kesadaran penuh. Gue nggak mau terjebak dalam hubungan nggak jelas. Gue...yakin, semua akan ada waktunya. Termasuk soal nikah dan dengan siapa, dengan cara apa kita menikah nantinya."
"Aaargggh, malees. Lu udah ketularan Wandaaa..." erang Nana kecewa.
"Gue nggak ketularan siapa-siapa. Gue mengkajinya dari apa yang gue baca, dengar, dan amati.dan gue mudah-mudahan bisa konsisten dengan pilihan gue ini..."
"Setan ada dimana-mana lho, Ra. Bisa aja suatu saat kalian tergoda untuk pacaran?"
"InsyaAllah nggak, Na. Gue akan coba menyamakan persepsi dengan dia. Itulah. tadinya gue masih ada nafsu dendam buat ngebalas semua perlakuan dia ke gue. Tapi, gue harus menghargai keluarga gue yang berbesar harapan bahwa gue bakal mau sama dia. Gue... harus menghormati keluarga gue, orang tua gue, yang pantesan selalu nanya tentang dia. Meskipun gue nggak suka..."
"Jadi lu nerima?"
"Gue bilang sama orang tua gue, I'll think it later. Gue ngotot harus menyamakan persepsi dulu dengan dia. Gue harap dia bisa dipercaya... dan gue tambah pusing waktu tahu bahwa Radit sebenarnya juga udah tau hal ini dari Ronan. Keterlaluan! Pantesan, kok gue yang 'dikorbanin' harus masuk ke missi aneh ini? Urusan apa gue sama dia? Mau dia ada masalah apa kek, mau bunuh diri kek, lah gue kan bukan siapa-siapanya? Dodolnya Wanda juga nggak tahu. Dia juga sebenernya merasa, kenapa gue? Dia hanya dikasih clue awal bahwa ada hubungan saudara sangat jauuuuh banget antara gue dan Ronan, which is kemungkinan banget buat dijodohkan seperti layaknya kebiasaan keluarga-keluarga kebesaran gitu."
"Missi?"
"Ya. Missi buat mengembalikan pedenya dia. Buat mendukung kepengurusan dia di SC. Nana, lagi-lagi gue... merasa life is totally unfair to me..."
Sejujurnya, baru kali ini Nana menemukan kelelahan yang sangat di mata Aira. "Gue capek, Na..."
Dengan penuh simpati, Nana mengusap-usap punggung Aira. Apa nggak usah aja ya dia bicarakan perasaannya yang diam-diam baru mekar... terhadap Radit?
Di mushala, Wanda marah pada Radit, disaksikan si Widodo.
Dan satu rak di belakang rak tempat dimana ada meja Aira dan Nana, di deretan komik, ada sebuah meja dengan setumpuk komik Petruk Gareng dan Mimin. Ada seorang cowok ganteng sedang memijit-mijit kepalanya sendiri. Pusing.
Padahal sebelumnya ia sudah berniat banget mengirim sms ke Aira.
Ra, I believe my heart.
Saved it to draft.
Kamis, 30 Juli 2009
CRY

I'll always remember
It was late afternoon
It lasted forever
And ended too soon
You were all by yourself
Staring up at a dark gray sky
I was changed
In places no one would find
All your feelings so deep inside (deep inside)
It was then that I realized
That forever was in your eyes
The moment I saw you cry
The moment that I saw you cry
It was late in september
And I've seen you before (and you were)
You were always the cold one
But i was never that sure
You were all by yourself
Staring at a dark gray sky
I was changed
In places no one would find
All your feelings so deep inside (deep inside)
It was then that I realized
That forever was in your eyes
The moment I saw you cry
I wanted to hold you
i wanted to make it go away
I wanted to know you
I wanted to make your everything, all right....
I'll always remember...
It was late afternoon...
In places no one would find...
In places no one would find
All your feelings so deep inside (deep inside)
It was then that I realized
That forever was in your eyes
The moment I saw you cry
Rabu, 08 Juli 2009
REFLECTION
Look at me
You may think you see
Who I really am
But you'll never know me
Every day, is as if I play apart
Now I see
If I wear a mask
I can fool the world
But I can not fool
My heart
Who is that girl I see
Staring straight back at me?
When will my reflection show
Who I am inside?
I am now
In a world where I have to
Hide my heart
And what I believe in
But somehow
I will show the world
What's inside my heart
And be loved for who I am
Who is that girl I see
Staring straight back at me?
Why is my reflection
Someone I don't know?
Must I pretend that i'm
Someone else for all time?
When will my reflection show
Who I am inside?
There's a heart that must
Be free to fly
That burns with a need
To know the reason why
Why must we all conceal
What we think
How we feel
Must there be a secret me
I'm forced to hide?
I won't pretend that i'm
Someone else
For all time
When will my reflections show
Who I am inside?
When will my reflections show
Who I am inside?
You may think you see
Who I really am
But you'll never know me
Every day, is as if I play apart
Now I see
If I wear a mask
I can fool the world
But I can not fool
My heart
Who is that girl I see
Staring straight back at me?
When will my reflection show
Who I am inside?
I am now
In a world where I have to
Hide my heart
And what I believe in
But somehow
I will show the world
What's inside my heart
And be loved for who I am
Who is that girl I see
Staring straight back at me?
Why is my reflection
Someone I don't know?
Must I pretend that i'm
Someone else for all time?
When will my reflection show
Who I am inside?
There's a heart that must
Be free to fly
That burns with a need
To know the reason why
Why must we all conceal
What we think
How we feel
Must there be a secret me
I'm forced to hide?
I won't pretend that i'm
Someone else
For all time
When will my reflections show
Who I am inside?
When will my reflections show
Who I am inside?
Minggu, 10 Mei 2009
Just Wanna Be With You
I got a lot of things
I have to do..
All these distractions
Our futures coming soon
We're Being pulled a hundred different directions
But whatever happens I know I've got you
Your on my mind
your in my heart
It doesn't matter where we are
It'll be alright
Even if we're miles apart
All I wanna do, Is be with you be with you
There's nothing we can do
Just wanna be with you
Only you
No matter where life takes us nothing can break us apart..
You know its true
I just wanna be with you(Be with you)
You know how life can be
It changes over night
Its sunny but raining, but its alright
A friend like you..
Always makes it easy
I know that your kidding me every time.
Through every up through every down
You know I'll always be around
Through everything you can count on me..
All I wanna do, Is be with you be with you
There's nothing we can do
Just wanna be with you
Only you
No matter where life takes us nothing can break us apart..
You know its true
I just wanna be with you
I just wanna be with you
The sun will always shine, that’s how you made me feel
We’re gonna be alright, ‘cause what we have is real
And we will always be together
All I wanna do, is be with you be with you
There's nothing we can do
Just wanna be with you
Only you
No matter where life takes us nothing can break us apart
I just wanna be with you
All I wanna do
All that I wanna do, is be with you
All that I wanna do, is be with you
All that I wanna do, I just wanna be with you
All that I wanna do, I just wanna be with you!
I have to do..
All these distractions
Our futures coming soon
We're Being pulled a hundred different directions
But whatever happens I know I've got you
Your on my mind
your in my heart
It doesn't matter where we are
It'll be alright
Even if we're miles apart
All I wanna do, Is be with you be with you
There's nothing we can do
Just wanna be with you
Only you
No matter where life takes us nothing can break us apart..
You know its true
I just wanna be with you(Be with you)
You know how life can be
It changes over night
Its sunny but raining, but its alright
A friend like you..
Always makes it easy
I know that your kidding me every time.
Through every up through every down
You know I'll always be around
Through everything you can count on me..
All I wanna do, Is be with you be with you
There's nothing we can do
Just wanna be with you
Only you
No matter where life takes us nothing can break us apart..
You know its true
I just wanna be with you
I just wanna be with you
The sun will always shine, that’s how you made me feel
We’re gonna be alright, ‘cause what we have is real
And we will always be together
All I wanna do, is be with you be with you
There's nothing we can do
Just wanna be with you
Only you
No matter where life takes us nothing can break us apart
I just wanna be with you
All I wanna do
All that I wanna do, is be with you
All that I wanna do, is be with you
All that I wanna do, I just wanna be with you
All that I wanna do, I just wanna be with you!
Ketulusan
Dengan ketulusan cinta
Wajah bumi akan terseyum bagai surgawi
Kebaikan yang selalu ditawarkan oleh jiwa
Akan mengubah kehidupan, menjadi
sekawanan lebah yang dipenuhi madu yang manis
Jiwa manusia akan semakin damai
Jika ungkapan cinta yang indah dan tulus
Lahir dari lahiriah dan batiniah
Untuk mencintai sang Khaliq
Sang pemilik cinta sejati, dialah Allah
Takkan ada kuasa lain dari sebuah cinta
kecuali milik-Nya
Takkan ada rasa lain dari sebuah cinta
kecuali cinta-Nya
Wajah bumi akan terseyum bagai surgawi
Kebaikan yang selalu ditawarkan oleh jiwa
Akan mengubah kehidupan, menjadi
sekawanan lebah yang dipenuhi madu yang manis
Jiwa manusia akan semakin damai
Jika ungkapan cinta yang indah dan tulus
Lahir dari lahiriah dan batiniah
Untuk mencintai sang Khaliq
Sang pemilik cinta sejati, dialah Allah
Takkan ada kuasa lain dari sebuah cinta
kecuali milik-Nya
Takkan ada rasa lain dari sebuah cinta
kecuali cinta-Nya
Langganan:
Komentar (Atom)