Bel tanda masuk sekolah sebentar lagi akan berbunyi, namun masih saja banyak siswa yang melenggang dengan tenang memasuki gerbang sekolah yang megah itu. Beberapa diantaranya lebih peduli kepada penampilan ketimbang satpam sekolah itu, pak Makmun, yang sudah memasang setelan muka masamnya. Sementara barisan antrian mobil-mobil-- yang sebagian besar masuk kategori mobil mewah itu--berjalan lambat, macet, dan para tuan dan nona muda itu tampaknya masih terlalu santai dan enggan untuk keluar dari mobil-mobil itu.
Di ujung utara gedung bertingkat empat ini, ada parking lot khusus untuk siswa yang membawa mobil ke sekolah. Lagi-lagi didominasi mobil-mobil sekelas BMW, Mercy, Audi, Jaguar, New CRV, Serena High Star, Alphard, Harrier, Odyssey, Camry, dan bahkan ada juga yang bawa mobil 'langka' saking mewahnya, kayak Range Rover Vogue atau Maseratti. Hah? Itu parking lot sekolah atau show room mobil impor?
Namun begitulah kenyataan yang ada di sekolah mewah satu ini. Terletak di bilangan Jakarta Selatan, memasuki sebuah kompleks perumahan sangat mewah, sekolah ini tampaknya dikhususkan menampung siswa-siswa yang memenuhi minimal satu dari tiga kriteria berikut:
1. Pintar banget
2. Kaya banget
3. Ngetop banget. Nah, yang ini golongan 'peak-too-sooner' atau 'social-climber', kayaknya bisa masuk sini jugaJ.
Seorang remaja putri dengan dandanan normal seperti layaknya anak SMA kebanyakan, rambut sebahu yang dipotong model pixie-nya mbak Katie Holmes, dengan kemeja putih dan rok kotak-kotak hijau, tanpa aksesori menyolok, kecuali sebuah jam tangan Guess dan postman bag berukuran sedang, serta sebuah tas berisi netbook, keluar dari mobil Chevy Sparks warna pink-nya. Tak lupa ia menekan key remote sebelum beranjak jauh dari mobilnya.
Sementara di belakangnya sedikit, seorang cowok, anak SMA itu juga, mendecak kesal karena range Rover Vogue-nya nggak bisa parker di tempat biasa. Ada 'kecoak' yang tiba-tiba nyempil di tempat favoritnya. Kecoak pink berjenis Chevy Spark nggak asik! Cowok berwajah mirip Ariel Peterpan itu memukul setirnya kesal. Haduh, mana sudah mau masuk gini, nggak dapat parker pula! Heran deh, emangnya pengemudi mobil kecoak ini nggak tau apa dia sudah langganan markir di sini? Cowok itu menyumpah-nyumpah nggak keruan.
Jengkel, cowok itu tiba-tiba mendapatkan bohlam di atas kepalanya menyala terang, terlalu terang, bahkan.
Dengan gerakan seorang pembalap andalan, ia sengaja memarkir tepat di depan mobil kecil itu. Paralel dengan jarak yang amat tipis. Beruntung, di sebelah si pink itu hanya ada mobil ambulans milik sekolah. Gegas ia menarik rem tangan dan buru-buru keluar dari mobil gagahnya sambil menekan key remote. Hehehe, rasain lu, gak bisa keluar baru rasa! Siapa suruh mobil jelek beda kasta begini diparkir di sini? Cowok itu bersiul senang.
Suasana kelas XI IPA 1 tampak riuh ketika Miss Olga mengumumkan susunan tempat duduk. Banyak diantara mereka yang tidak terima keputusan Miss Olga, sang wali kelas, untuk memasang-masangkan laki-laki dengan perempuan. Beberapa aktivis Rohis bahkan protes keras. Tai nampaknya Miss Olga adalah fans setia pepatah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Jadi dia cuek saja tuh, mengumumkan ide cemerlangnya itu.
"Wanda Syarif dengan Raditya Ramelan..."
Seorang gadis cantik berjilbab panjang manyun. Sementara seorang cowok berambut crew cut menempati bangku di sisinya takut-takut.
"Afwan, Ukhti..." bisik si cowok lirih dan takut.
Si ukhti tetap cemberut dan langsung memajang oversized daypack warna abu-abu dengan gantungan monyet berbulu tebal sebagai pembatas antara mereka.
Aksi ini jelas mengundang tertawaan seisi kelas. Miss Olga malah sampai harus menutup mulutnya dengan tissue.
"Kenapa kamu memajang monyetmu diantara kursimu dan kursi Radit, Wanda?" Tanya Miss Olga, sok tegas.
"Karena... karena..." Wanda tampak susah sekali mengungkapkan alasannya.
"Oh... nggak apa-apa, miss. Saya lebih baik ngeliatin monyet ini daripada menatap teman sebangku saya ini..." potong Radit dengan wajah sama pusingnya.
Di barisan belakang, si cewek pixie tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Wanda, memberi support. Wanda memang salah satu BFF-nya sejak kelas satu. Ada yang haree genee gak tau BFF? BFF itu artinya best friend forever, jelas? Jadi nanti jangan ada lagi yang Tanya arti BFF di comment status facebook saya yaJ.
"Nyantai, Nda," bisik si pixie dengan senyum tertahannya.
"Belah mana nyantai? Dia kan ketua Rohis, aku Kaputnya. Apa kata dunia?" rajuk Wanda lirih.
Sayangnya itu cukup terdengar di telinga Radit, di sebelahnya. "Besok, saya bawa kain hijab juga gak apa-apa, Ukhti," ujar Radit.
"Berisik! Mana ada ketua Rohis ngupingin omongan kaputnya?" sentak Wanda sadis. Si pixie ngikik tertahan.
"Kamu. Aku doakan kamu sebangku sama si Pangeran Es ya?" ujar Wanda kepada si pixie, mematikan. Efeknya si pixie jadi pucat dan panic.
"Please deh, Nda, doamu suka makbul gituloh. Jangan dooong..."
"Khairani Prawiraningrat dengan Ronan Lukito," kembali Miss Olga mengumumkan pasangan berikutnya.
"APA?"
"Tuh kan, bener kataku..."
"Whoaaaa..."
"Ada apa, Aira?"
Si pixie, yang ternyata bernama Aira, tergeragap seketika. Aduh, kenapa dengan dia? Musuh bebuyutan dari kelas sepuluh!
Aira menggeleng lemah. Mukanya ditekuk delapan, sementara separuh populasi cewek di kelas itu memekik iri. Kok bisa ya, Aira yang biasa banget itu dapat teman sebangku manusia seganteng dan se-cool Ronan?
Dasar Aira juga orangnya pede. Dia membalas sekilas tatapan mematikan itu dengan tatapan; silakan-ambil-dan-bungkus-itu-si-Ronan-yang-mana-gue-beneran-serius-gak-butuh!
"Hai, Aira," sapa si Ice prince, yang tiba-tiba sudah ada di sisi Aira. Hih, mendadak Aira merasakan tubuhnya menggigil.Padahal, ia sudah melapisi seragamnya dengan cardigan warna pink lho.
"Oh, hai."
"Kita ketemu lagi ya? Langsung dipasangkan di hari pertama pula."
"Don't care, please."
"Nanti juga kita bersaing lagi, kan? Pemilihan President of Student Club, remember?"
"Hmm..."
"Ready to paint the town red if you win the battle?"
Hah? Battle? Lu kata mortal combat?
"Kamu kali. Aku nggak ambisi tuh."
"Geng katro-mu itu iya banget!"
"Sekali lagi nyebut clique aku katro, gue bunuh lu!"
Cowok itu hanya melengkungkan senyum sinis di bibirnya. Aira membalasnya dengan tak kalah sinis. Kayak gini kok digelari the hottest boy in school of the year? Belah mananya sih yang katanya 'charming' itu? Jempolnya aja segede pukulan kasti. Huh! Aira bergidik membayangkan hari-harinya ke depan yang akan terasa seperti di neraka. Mana ya, katanya orang bilang masa di SMA itu adalah masa paling indah? Masa paling indah mbahmu!
Bete, Aira mengeluarkan sekaligus iPod dan Blackberry-nya.perlu diketahui bahwa ini semua bekas alias second, lungsuran dari sang papa, padahal ini larangan keras lho, kalau ketahuan. Ronan di sebelahnya, tanpa sadar memanjang-manjangkan lehernya.
"Ini bukan di Coffee Bean kali," celetukan Ronan terdengar sangat sinis, dan... dingin. As usual.
"Bukan urusan kamu!"
Cuek Aira memasangkan earphone di telinganya, dia tutupi dengan menaikkan sedikit cardigannya ke leher. Terdengar lagu-lagu Sarah Brightman segera.
Di depannya, Wanda dan Radit juga tampak belum bisa berdamai.
Sementara, sekilas Ronan sempat melihat Aira membuka album di BlackBerry-nya. Mata Ronan memicing melihat salah satu pose gadis itu dengan... si kecoak pink jijay! Ada seringai di wajah ganteng Ronan saat itu.
Sebenarnya sih, Aira sering merasa ia kelewat membenci Ronan. Bukan apa-apa, anak itu terlalu sok cool di matanya. Nggak pernah ngomong sama cewek kalau nggak ditanya. Padahal anak Rohis juga bukan, kali. Masih mending si Radit deh. Bagian yang paling menyebalkan, Ronan itu sinisnya minta ampun sama dia.
Hal itu agaknya dipicu suasana persaingan mereka untuk jadi juara umum waktu kelas sepuluh tahun ajaran lalu. Sama-sama pintar dan aktif. Hanya yang satu banyak teman, yang satu agak-agak dark gitu. Radit mencemooh kemampuan fisika Aira yang agak lemah, sementara Aira mencela kemampuan Ronan dalam social studies yang kacau.
Ronan benci kepada geng Aira yang dia anggap geng cewek berisik dan sok cakep. Padahal, jelas-jelas geng itu nggak semuanya berisi anak-anak orang berada, contihnya ya si Aira itu. Bahkan dengan sadis, Ronan menggelari Aira dengan sebutan 'Socialite wannabee', menyakitkan bukan?
Aira benci kepada sikap Ronan yang selalu meremehkan kemampuannya. Juga cenderung sadis.
Ia ingat betul, waktu kelas sepuluh, Aira digencet oleh beberapa seniornya. Cewek semua gituloh. Waktu itu, Aira disekap di kamar mandi dan dipaksa mengaku kalau ia punya hubungan istimewa dengan Kak Rudy, President Student Club.
Padahal, boro-boro punya hubungan, kenal aja kagak. Tapi biasalah, namanya juga senior, nggak boleh lihat ada junior yang lebih keren, pasti sirik dot com dong?
Jelas saja Aira nggak mau mengaku. Dia nyaris ditampar, tapi dia keburu menjerit. Tepat saat itu Ronan melintas mau ke kamar mandi cowok yang letaknya berseberangan dengan kamar mandi cewek. Mendengar ada suara jeritan, tanpa piker panjang Ronan mendobrak pintu. Di sana dia mendapati Aira nyaris tak berdaya dikerubuti lima cewek kelas dua belas.
"Ada apa, kak? Kenapa dia?" Tanya Ronan kepada cewek-cewek berwajah gahar itu.
"Ini cewek tengil banget. Baru kunyil kayak lu, udah pacaran sama Rudy!" ujar Evi, sang leader.
Melihat tanda-tanda sebentar lagi Aira bakal nangis gegerukan dilanjutkan pingsan (soalnya mukanya udah pucat), Ronan segera bertindak."Wah, nggak mungkin, kak. Dia pacar saya. Kami udah ditunangkan sejak SMP".
Kontan yang Mulia Para Senorita itu bengong semua. Gini hari? Tunangan? Wakwaw... enggak banget deeeh!
Hasilnya, Aira memang dibebaskan. Tapi tahu apa kata Ronan setelah itu?
"Makanya jadi cewek jangan kegatelan deh. Masih kunyil aja udah mau flirting sama pejabat!"
Mau marraaahhh banget kan?
Maka, setelah itu, dimana gossip berhembus tentang 'pertunangan nggak penting dan nggak banget' itu di seantero sekolahan, Aira langsung memaki-maki Ronan di tengah lapangan, waktu itu Ronan baru datang dan suasana sekolah lagi full rame. Jadilah mereka tontonan semua umat, dan Ronan maluuu banget. Hahaha, kayak lovers' quarrel ajaJ.
Sejak saat itu keduanya resmi bermusuhan dan selalu saling berhadapan dengan nafsu membunuh yang besar. Bahkan hingga sebelum kenaikan kelas, mereka dimajukan sebagai calon President Student Club. Sebenarnya sih, yang sangat berambisi yaitu orang-orang di belakang mereka.
Misalnya saja Clique-nya Aira, ada Wanda, Rena, Kirana, dan Dina (sang ketua). Sementara di pihak Ronan ada Radit, Emil, Wawan, dan Edu. Saat kampanye pun, kedua geng yang sibuk berperang. Ya, Ronan dan Aira nya juga sih. Tapi nggak seheboh geng mereka ini. Perang spanduk, perang kata-kata, hingga perang di facebook masing-masing.
Kembali ke kelas.
Sementara Miss Olga sudah sibuk menerangkan Kimia, anak-anak masih sibuk menggoda--diam-diam--kedua pasangan aneh itu: Wanda dan Radit, serta Aira dan Ronan. Yang digodain jelas pada bete.
"Heh, kamu jangan GR ya? Tunggu puncak pemilihan suara besok!" desis Ronan ke arah Aira.
Aira hanya menoleh sebentar, lalu memutar matanya. Tak peduli.
Ada yang tak diketahui Aira, ketika jam istirahat, Ronan tersenyum puas di parking lot.
Yang jelas, saat pulang sekolah, Aira merasa dirinya mendadak jantunga. Ban si pinky tiba-tiba kempes, dan ada Range Rover Vogue segede pabrik Krakatau Steel menclok pas di depan mobilnya.
Ia langsung tahu siapa pemilik range Rover itu. Tak kurang akal, ia berlari mengambil gerobak besi tempat sampah milik Pak Ujo, penjaga kebun. Dengan sadis ditabrak-tabrakkannya gerobak butut itu ke bumper si Vogue. Teman-temannya gak ada yang tahu karena kebetulan, parker mobil mereka agak jauh dan tersembunyi.
Sukses! Si Vogue baret sedikit!
Aira bertepuk tangan senang. Dengan riang, dia berlari menuju Kijang Innova Wanda., dimana Wanda sudah siap mau pulang bareng supirnya. Beres. Aira nebeng Wanda pulang. Tatapan penuh selidik dafri wanda yang curiga sama sekali tak ia pedulikan. Nanti sorenya baru deh dia ambil si pinky bareng kakaknya. Cerdas, bukan?
Airaaa...
Sambil menegakkan kepalanya, Aira tersenyum. Ia telah kembali turun gelanggang. Dengan kesadaran penuh, ia telah merentang busur dan mengokang senjata perangnya melawan Ronan, cowok yang kalau perlu, ia benci seumur hidup dan matinya. Cowok nggak guna dan nggak penting, yang telah dengan semena-mena merampas kesempatannya untuk menjadi juara umum tahun ajaran lalu, di mana dia harus puas ada di ranking dua. Dan kali ini, dia akan sekuat tenaga mempertahankan dirinya dari ancaman kekalahan dirinya. Cowok sok dark yang menang fans doang itu harus dia beri pelajaran, bahwa dia bukan The Plain Aira yang bisa seenaknya saja dipandang sebelah mata.
Hati Aira perih mengingat sudah terlalu sering Ronan mengatainya sebagai socialite wannabee atau golongan kasta paria. Kurang ajar banget!
Pulang sekolah, Aira segera menyibukkan diri dengan persiapan mobilisasi pemilih untuk pemilu raya-nya Excellent International School besok. The big election day!
Tanpa dia sadari, di parking lot, Ronan bahkan sudah berlaku jauh dari yang Aira bayangkan. Dendam memang tak akan pernah selesai. Kalau bisa selama hayat masih dikandung badan, api dendam tak akan pernah padam.
Sore itu, seorang gadis cantik bermata bintang dan bercapuchon baby blue menangis sesenggrukan di samping si pinky yang keempat bannya kemps semua! Sementara di sampingnya, Erina, sang kakak menyumpah-nyumpah kesal.
Peperangan baru saja dimulai(lagi), jadi bersiaplah, Aira….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar