WELCOME IN MY BLOG...

Kamis, 27 Agustus 2009

I’m not katro, anyway… (serial exist 2)

Pagi hari Yang Bergairah di Exist
Sumpah, ini adalah sekolah paling funky di dunia. Baru hari kedua saja, sekolah sudah mengadakan pesta demokrasi, alias pemilihan ketua OSIS yang mereka sebut President of Student Club. Sementara sekolah lain masih sibuk dengan MOS dan apapun namanya itu. Di Exist, MOS alias Welcoming the Preppy baru akan diadakan seminggu lagi. Kapan belajarnya ya? Ah, namanya juga sekolah unggulan, dimana anak-anaknya sebagian besar punya otak sederajat sama Habibie, Bill Gates, Einstein, Al-Farabi, Al- Jabbar, Al-Kindi, dan sederet Begawan IPTEK lainnya.
Nah, here comes the day... the election day.
Para kandidat, yang kebetulan hanya dua orang, yaitu Aira dan Ronan, keduanya dari kelas XI IPA 1 alias Grade XI Sci 1, tampak sudah sibuk memobilisasi para pendukung untuk bergerilya memastikan bakal perolehan suara. Hebohnya hampir sama dengan PILEG dan PILPRES di Negara kita kali.
Di sini juga ternyata ada serangan fajar dan black campaign. Misalnya saja, para pendukung Ronan yang didominasi cedwek-cewek cantik dan popular anggota Cheerleaders Squad, band, Vocal Grup, Paduan Suara, dan basket, dengan agresif bergerilya ke adik-adik kelas, anak-anak preppy. Mereka bawa-bawa pin, stiker, sampe standing banner segede pintu kelas, bergambar wajah cute Ronan. Cewek-cewek preppy jelas banyak yang langsung jatuh hati sama si prince charming itu. Apalagi diiming-imingi bonus pin dan stiker. Lumayan kan, bisa ditempel di pintu kamar (mandi).
Sementara para pendukung Aira, yang didominasi oleh para makhluk pintar dan agak-agak geeky (yang ini pasti anak-anak Science Club, Book Club, English Club, Merpati Putih, Rohis, dan Koperasi Siswa... oops, nambah juga, Majalah Sekolah, dan Computer Club), dan anak-anak berjilbab (Rohis lagi dooong), juga tak kalah agresif mendekati calon pemilih. Mereka bahkan menguasai pojok paling cozy di kantin Mr. Uwak (gak jelas nama sebenernya siapa, tapi turun temurun siswa yang sekolah di situ memanggilnya Uwak) yang dinamai Exist Café, sebagai markas besar pendukung Aira.
Di markas itulah Aira, Wanda, Kirana, dan Dina mengumpulkan selebaran black campaign tentang Aira. Dari muka-muka mereka, kelihatan mereka berang sekali. Gimana mereka nggak berubah jadi berang-berang pemberang, coba? Ini salah satu contoh:
BEBERAPA ALASAN AIRA GAK PANTAS JADI PRESIDENT:
a. Aira ternyata dodol banget membedakan hukum Newton I, II, dan III. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menegakkan hukum di Exist, kalau dianya sendiri nggak faham hukum-hukum Newton?
b. Aira nggak banget kalau urusan fashion. Gini hari masih shopping di Passer Baroe? Hello, kemana aja, neng? Gak nyadar ya butik Mango, Zara, dan Nine West udah ada di Mall-mall gede? Paling apes ada Harvey Nichols, Debenhams, atau Sogo kan?
c. Friendlist nya Aira di Facebook dan Friendster nya didominasi oleh manusia-manusia katro dan geeky. Mualas banget deh.
d. Aira bukan salah satu atau salah semuanya anggota club-club elit di Exist. You named it: Cheers, dance Group, Basket, Renang, Vocal Group, Paduan Suara, Band, Bola, Tinju...

Jadi kesimpulannya: Aira is Katro! So, jangan biarkan anak katro memimpin Exist, meski hanya untuk satu tahun ke depan. Nggak banget!
Membaca selebaran itu, kelihatan wajah Aira yang putih cenderung pinkish itu memerah. Agaknya dia sangat marah. Mungkin kepalanya sudah mendidih. Coba cek, silakan taruh telur mentah di atas kepalanya. Pasti langsung bisa dimakan deh tuh telur.
Sementara itu, Widodo, anak Rohis yang juga menjagokan Aira, tampak berlari-lari mendekati meja yang ditempati Aira cs. Tangannya mengacung-acungkan sebuah selebaran yang berwarna hijau dangdut. Aduh, selebaran apa pula itu? Kirana sampai mengerjap-ngerjapkan matanya pusing.
"Apaan tuh, Wid?" Tanya Aira begitu Widodo mendarat di lokasi.
"Nih, baca aja. Lu kok bisa sih ikutan bikin segala black campaign begini? Nggak boleh lho, mencari kemenangan dengan cara menjatuhkan lawan..."
Hah? Siapa lagi yang bikin begituan? Aira dan tim suksesnya langsung pada melongo. Mana warnanya nggak banget lagi!
"Coba gue lihat," Dina langsung menarik selebaran itu dari tangan Wid. Kirana yang suka sok imut langsung menjengit jijay melihat selebaran mendadak dangdut itu.
FUN FACTS ABOUT RONAN
1. Dia konon kabarnya masih turunan vampire kayak si Edward di film Twilight. Bisa dibuktikan dari kesukaannya merenung dan meramal. Kalau turunannya Robert Pattinson-nya sih ya nggak apa-apa banget kaliL
2. Ronan terbukti ikut remedial social studies dan world history beberapa kali sewaktu di Grade X. Silakan Tanya sama dia, darimana asalnya Mussolini, pasti dia nggak tahuJ
3. Bapaknya Ronan adalah bangsawan Jawa. It's OK. Tapi ibunya adalah kelahiran Setu Babakan. Tahu nggak dimana tuh tempat? Silakan cari di peta Jakarta. You know lah, Jakarta is a beautiful country getoloh and dangdut is the music of my country dehJ.
Jadi, kalau kamu peduli sama bibit, bebet dan bobot, silakan pilih siapa saja. Asal jangan Ronan!
"Huahahahaha..." Aira langsung ngakak keras banget dan mengundang pelototan ngeri dari Wanda dan Wid.
"Lu percaya kalau gue yang bikin ginian?" Dia balik bertanya kepada Wid.
Yang ditanya malah balik bertanya pula, "Emang bukan?"
"YA BUKANLAH, MASAK YA BUKAN DONG!" bentak Aira, Dina, dan Kirana serempak. Sementara Wanda hanya nyengir-nyengir malu melihat kelakuan sahabat-sahabatnya yang rada minus itu. Wid sendiri langsung mundur kaget, disemprot cewek-cewek berisik itu. Haduuuh.
Aira mengambil selebaran itu dari tangan Dina, melewati Kirana yang langsung menutup hidungnya. Padahal selebaran itu sama sekali nggak bau lho. Kirana memang terkenal sebagai Miss Drama Queen, sesuai dengan ekskul yang dia ikuti: Teater.
Aira memonyong-monyongkan bibirnya membaca selebaran itu. Lalu membandingkannya dengan selebaran yang lebih dulu ia pegang.
"Hmmm... gayanya sama nih. Lame... basi!" komennya, singkat. Namun otaknya mulai menunjuk kepada seseorang atau beberapa orang. Aduh, padahal harusnya jangan suuzhan dulu kali.
"Gaya apanya?" Tanya Kirana, tulalit. Dia memanjang-manjangkan lehernya, mencoba membaca selebaran yang tadi ia benci setengah mati itu.
"Gaya nulisnya lah. Emang gaya apanya lagi? Lagian tadi kamu benci banget sama tu kertas, sekarang sok-sok ngintip pula," goda Wanda yang mengundang pelototan Kirana.
"Kira-kira... siapa yang nulis, Ra?" Tanya Dina dan Wid kompak. Sesaat kemudian keduanya menyadari kalau mereka kompak, lalu saling melotot dan memalingkan wajah sambil mingkem. Yang lain jadi pada senyum.
Aira tidak menjawab. Dia hanya memutar matanya yang indah itu. Lalu dengan lagak bak Queen Bee, dia mengeluarkan BlackBerry (yang belakangan ternyata diketahui bukan BlackBerry asli, melainkan NexianBerry, keluaran China), dan tampak mengirim message kepada seseorang.
To: Forest Gump
You rock, babeJ.
I will return ...
Di sudut lain, dekat dandang somay Mr. Uwak, seseorang mendengar bunyi ting!ting! di BlackBerry-nya, tanda ada pesan masuk.
To: Miley Cyrus
Hahaha... life is a box of chocolate, like I said. Just take your box today!
Tak berapa lama, terjadi saling kirim message di antara keduanya.
To: Forest Gump
Just eat your piece too, babeJ. Asal kamu tau: ada kesalahan informasi, btw, gue adalah ANAK PADUAN SUARA. Silakan ralat info mu yaJ. Dan gue baru sekali belanja di Passer Baroe, selebihnya gue prefer belanja di MAYESTIKJ)...
To: Miley Cyrus
Hahaha... norakJ
To Forest Gump
Btw, ralat lagi. Kayaknya bukan si Edward deh yg vampire di film Twilight, tapi si Bella
nya kayanya. Eh, apa gue yg salah?
Si Forest Gump tersenyum kemudian mengantungi BlackBerry-nya dan kembali bergabung bersama kerumunan. Acara pemungutan suara akan segera berlangsung.
Tengah hari, menjelang azan zuhur, pemungutan suara akhirnya selesai. Ketika melewati barisan anak cowok di mushala, Aira yang hendak shalat zuhur menangkap celetukan sinis. "Dasar social climber!" Tapi tak seperti biasanya, dimana ia akan nyolot dan langsung menggaplok dengan nafsu membunuh yang besar ke si mulut sinis tadi, Aira hanya melenggang dengan acuh.
Batinnya bilang, nanti akan ada saatnya gue tunjukkin bahwa gue nggak katro, dan bukan social climber kayak elu!
Sejak peristiwa di parking lot, Aira nampak lebih berhati-hati lagi. Ia belajar mengurangi nafsu senggol-gampar nya yang biasanya dominan. Bukankah seorang pemimpin yang baik harus bisa menahan diri? Begitu kata Wanda saat akhirnya ia curhat kepada cewek manis itu. Dan bersama Wanda, ia telah menyimpan kartu truf si belagu itu.
Si cowok sinis, yang tak lain adalah Ronan, menggumam dalam hatinya. "OK, Ra, gue tahu gue salah menyimpulkan. Gue akui, lu lah yang bikin Rohis, Science Club, dan segala ekskul yang tampak geeky itu menjadi nggak geeky. Ya, Ra, karena lu selalu bisa mencairkan suasana. Lu nggak ikutan kaku meski bareng sama anak-anak yang kaku. Lu nggak ikutan bebas meski ngumpul sama anak-anak yang bebas. Lu... gaul tapi tetap punya karakter.
Lu kayak sebatang coklat, Ra. Lu bisa melumerkan suasana hati orang.
Tapi tetep aja, gue nggak mau lu jadi Presiden. Gue nggak biasa kalah, Ra. Apalagi dari orang yang (tadinya) gue anggap katro kayak lu."
Ronan segera mengikuti teman-temannya shalat berjamaah, dan menutupnya dengan doa untuk kemenangannya. Demi sebuah gengsi!
Hasil akhir pemilihan itu diumumkan sebelum shalat ashar. Hasilnya, Ronan menang. Dia yang jadi Presiden sekarang. Sejujurnya, Aira sedih. Sedih banget. Makanya dia merasa sangat terhibur menyadari Wanda dan Dina meremas bahunya dengan hangat. Tanpa disadari ada bening di sudut matanya. Ya Allah, aku kalah lagi, batin Aira nelangsa.
Di panggung aula, Ronan tampak berjaya disalami guru-guru,kepala sekolah, dan kak Rudy, Presiden terdahulu.
Ingin rasanya Aira berteriak lantang, "Woooyyy, lu curang! Lu menang dengan curang! Lu jahat! Gue nggak bisa terima!"
Tapi yang ada dia hanya duduk terdiam mematung. Kedua tangannya dipangkukan di pahanya. Lemas. Ia bahkan malas mendengar speech Ronan di hari bersejarah itu. Ia hanya menoleh sebentar saat Wanda menyentuh tangannya.
Ya, sosok yang berpidato di depan itu, yang katanya manusia paling ganteng di sini, tampak dingin. Aura esnya terasa hingga ke dalam hatinya.Ada sesuatu yang disembunyikan Ronan di balik popularitasnya yang melangit belakangan ini. Sosok rapuh. Menyadari itu, Aira menggigit bibirnya. Boleh jadi, lawannya ini bukanlah tandingannya sebenarnya.
Maka, ia terperangah ketika anak-anak ramai menyerukan namanya. Ada apa?
"Kamu diminta Ronan naik ke panggung," jelas Wanda yang tahu Aira sempat melamun.
"Ngapain? Mau dicela? Dikatain katro?"
Wanda mengangkat bahu, dan setengah mendorongnya berdiri. "Hadapi dengan elegan, Ra. Ingat missi kita," ujar Wanda lirih.
Gleg. Aira menelan ludah. Harus ya, gue terlibat di missi ini?
Tapi ia paksakan juga untuk bangkit. Tak ada kamus minder bagi seorang AIra. Dia tidak jadi presiden, tapi bukan berarti dia kalah.
Tepuk tangan, sorak sorai, hingga suit-suit prikitiw yang nggak penting mengantarkannya sampai di panggung.
Hahaha, nggak nyangka, fans gue banyak juga, euy! Seloroh hati Aira geer.
"Dengan bangga, saya perkenalkan, sekretaris yang akan mendampingi saya dalam masa jabatan setahun ke depan, Miss Khairani Prawiraningrat!"
Hah? What?
Itu tadi Ronan yang ngomong, kan?
Aira sempat bingung juga. Namun segera dia menyadari julukan Ronan padanya, Si Katro. Aduh, jangan sampai aja dia jadi kelihatan katro beneran sekarang.
Tapi ternyata serius, euy. Ronan behave banget di panggung, nggak ngatain dia katro atau apapun yang biasanya bikin Aira mau nyambel mulut anak itu. Jadi Aira juga berusaha mengimbangi dengan berlaku datar dan nggak galak kayak biasanya. Anak-anak XI IPA 1 tampak menarik nafas lega melihat pasangan crazy in hatred itu secara tumben nggak tampak ingin saling membunuh kayak biasanya.
Sampai pulang sekolah, Aira menyangka Ronan sudah berlaku sportif dan sudah menyadari bahwa anggapan dia selama ini salah. Tapi ketika dia tengah memarkir mobilnya di garasi, sebuah pesan masuk ke NB nya.
From: Forest Gump
Thanks. Gue sebenernya udh lihat kok, bahwa gak ada ekskul katro di sekolah ini. Yg katro mah dimana2 ada, dan bkn hny di ekskul tertentu.
Segera ia mengirim balasan.
To: Forest Gump
Bagus deh kalo udh nyadar.
From: Forest Gump
Jd siap ya Aira Bantu gue?
To: Forest Gump
Ya, kita tawar2an lah nanti. Namanya jg politikJ. Politik itu kejam, Jendral.
From: Forest Gump
Hahaha, sekali katro tetap katro! Hidup katro! Sekretaris gue emg asli katro!
To: Forest Gump
Diam! I'm not katro, DODOOOOLLL!
Tanpa tunggu waktu lagi, Aira langsung menekan off pada NB nya. Bodo amat deh. Emang dasar jahat, ya harusnya gak dikasih ampun, batinnya gondok. Lihat aja nanti malam di wall facebooknya pasti gue cela abisss...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar