I Believe My Heart (Serial Exist 5)
Senja masih muda di Exist
Masih ingat Kirana? Itu lho, si Miss Drama Queen, gengnya Aira, yang kalau ketawa aja mesti diatur dulu. Alasannya, teteup, biar lebih memberikan efek dramatis. Gak jelas efek dramatis seperti apa yang doski maksud, mengerikan sih iya. Nah, balik ke Kirana. Hari ini, sehabis latihan drama eh... teater, si Kirana bela-belain mencari Aira yang sedang mojok di Perpust. Biasa deh, ini salah satu hobinya Aira. And FYI, yang namanya perpust Exist itu keren dan luengkaaap banget. Segala koleksi buku dan film ada, maksudnya hampir semua ada. Malah komik Petruk Gareng juga ada lho, sama komik Mimin. Ini kesukaannya si Ronan. Dia kalau baca komik Petruk Gareng bisa tahan bergadang semalam suntuk tuh. Nah, sekarang, Aira sedang menikmati Grotta Azzura, roman keren karya Sutan takdir Alisjahbana. Di mejanya juga ada Cecilia dan Malaikat Ariel-nya Jostein Gaarder dan Serial si Nida karyanya Dian Yasmina Fajri (ehem...).
"Ra... Ra..." suara Kirana yang lemah lembut terdengar sayup-sayup sampai di telinga Aira (soalnya lagi sambil dengerin iPod sih).
"Hoiii, budeg ya? RAAA!"
Efek dramatis nya sungguh terasa. Bukan hanya Aira yang nyaris terjeengkang kaget. Tapi juga seluruh manusia di situ, termasuk Miss Ati, sang librarian, semua serempak bersuara, "SSsstttt!"
Kirana kontan menutup mulutnya dengan saputangan bermotif Wilbur (si babi dalam film 'Charlotte's Web). "Ooopsss, didn't mean it, maaaap".
"Ngapain ke sini, Na?" Tanya Aira heran. Setahunya, Kirana termasuk anak yang males banget baca. Dia mah taunya fashion, make up, sama tempat-tempat seru buat gaulJ.
"Emang nggak boleh?" rajuk Kirana sambil menarik bangku kosong di sebelah Aira.
"Boleh sih, tapi kayaknya nggak-elu-banget deh... secara..."
Mendadak Aira melihat kilatan mata tricky-nya si Nana Kirana ini.
"Hahaha... lu emang jenius ya? Atau... jangan-jangan elu udah ketularan si Ronan ya punya sixth sense?"
Aira melengos malas. "Beuh, lu kata gue cenayang? Sodaraan sama Ronan pula? Mendingan gue sodaraan sama Dumbledore kaleee... Kenapa lu, Na?"
Nana membolak-balik buku-buku di meja Aira dengan wajah clueless. Buku memang bener-bener nggak masuk di kepalanya. Orang buku pelajaran aja males, apalagi yang beginian.
"Buruan deh. Gue bete tau, liat muka sok sinetron lu itu. Ada apa? Lu naksir cowok mana lagi?"
Hahaha, ini juga satu hobi si Nana. Naksir cowok sebulan sekali ganti, naksir doang sih. Kayak beli voucher hape saking seringnya dia ganti labaan.
"Ra, gue peratiin nih, hubungan lu sama si ice prince itu makin membaik ya? Makin mencair gitu?"
Aira terkikik halus. "Mencair? Es kaleee..."
"Aira, serius ah..."
"Aira mendorong bukunya ke tengah, dan mencopot iPod-nya secara resmi. "Gak tau sih. Yang jelas, gue kayaknya gak bisa perang secara frontal sama dia, Na. Gue pake siasat perang-nya Tsun Zu aja kali ya?"
Nana bengong. Clueless lagi, Tsun Zu itu sejenis bintang pelem kung fu kah? *heran kok yang kayak gini bisa masuk Exist ya?*.
"Heh, tau Tsun Zu gak lu? Males deh gue neranginnya ke elu. Lu googling atau nge-wiki deh ntar malem. Jangan shopping Anna Sui online mulu lu".
Kirana manyun dengan muka sepet. Gini deh resiko berteman dengan cewek paling pinter di Exist. Kudu rela dijudesin dengan mulut sambelnya kalau dia lagi nggak mood.
"Back to topic ya, Na. Gue gak tau apa ini gue yang terpaksa berbaik-baik dengan dia, atau secara natural, gue udah menganggapnya biasa, sebagai bagian dari nasib apes gue. Emang kenapa?"
"Lu maafin dia, Ra? Kan dia yang ngedesain black campaign tentang lu waktu Election day kemarin?"
"Ya. A little bit. Tapi gue liat dia juga aneh sih. Masak sekalian bikin black campaign tentang dirinya juga sih? Buat apa coba?"
"Hah? Itu tulisan dia? Serius lu?"
"Na, gue peringatin elu ya, jangan sekali-kali menaikkan suara di sini kalau gak mau ditendang Miss Ati keluar! Biasa aja kenapa?"
"Nggak, sorry... sorry. Gue hanya shock aja. Kok bisa? Apa gunanya coba? Dan... lu tau dari mana?"
Aira memutar matanya. Sebenarnya dia lagi males aja ngomongin Ronan. Setelah sebuah kenyataan yang 'basi dan menjengkelkan' terbentang di depan matanya. Bagus!
"Ya bisalah, masak ya bisadong! Sebetulnya itu taktik si Ronan buat cari perhatian para pemilih. Soalnya lu kan tau, secara survey, sebelumnya gue unggul. And you have already known before. Gue. Lebih. Populer. Dari. Dia". Ada penekanan lebih pada kalimat ini. Aira seperti merasakan sakit hatinya kembali membadai terhadap cowok itu.
"Iya terus?"
"Dia membombing inbox message facebook gue, blackberry gue, dan hp gue, dengan sederet ancaman, bahwa kalau dia gak dapet itu jabatan, which is larinya tu jabatan ke gue, dia nggak akan tinggal diam. Dia akan makin mendiskreditkan keluarga gue sebagai spesies yang gak pantes masuk sini. Na, gue... gak apa-apa banget kalau dia nyela gue katro. Tapi gue nggak akan pernah membiarkan dia nyela-nyela keluarga gue..."
Nana menahan nafas saking kagetnya. Kali ini dia lupa scenario The Drama Queennya yang jadi andalan.
"Sehina-hinanya keluarga elu, misalnya..."
Nana udah keburu melotot. Jadinya Aira geli menahan tawa.
"... lu nggak akan membiarkan mereka dihinakan di depan umum. Karena dari mereka lu tumbuh. Dari mereka lu mewarisi segala yang terbaik yang lu miliki saat ini. Itu yang gue jaga. Kehormatan keluarga. Lu lihat kan selama ini dia enak banget nyela-nyela keluarga gue lewat wall facebook gue. Orang paling bego juga tau, kalau obrolan di wall itu akan emerge dan semua orang di dunia pasti bisa baca."
"Kok dia tega gitu ya, Ra? Unfair..."
"Oh, c'mon, babe, mana ada sih di akte kelahiran kita, ada tulisan, selamat datang ke dunia, kamu akan menjalani kehidupan yang fair dan always happy ending just like a fairy tale?"
"Trus lu gak melakukan sesuatu, Ra? Plizzzz deh, Ra, gue lama-lama bete lihat saint-y look lu itu. Sok baik. Padahal lu kan marah dan sebel juga kan sama dia?"
"Jelas, Na. Gue sebel, nangis, kesel, bete, merasa dipercundangi, ... tapi... gue janji dari kecil, bakal melakukan apa yang gue bisa untuk menjaga keluarga gue. Gue melakukan sesuatu? Nggak, Na. gue hanya nangis di mushala, ditemenin Wanda."
"Kok nggak sama gue?"
"Heh, elu kan wara-wiri nyari dukungan buat gue, sama Dina dan Rena. Lu baik banget, Na. Gue thanks banget kalian smeua mau support gue yang bukan siapa-siapa ini."
"Addduuuh, Aira, lu emang beneran ibu peri yang jatuh ke bumi ya? Huhuhu..."
"Udah deh, jangan mewek di sini! Ntar dikirain orang, gue abis maki-maki elu! Nana, gue belajar keras untuk ngelupain apaaa yang dia lakukan ke gue. Susah banget. Tapi kalau lu tau kenapa gue melakukan itu, lu akan berpikir sama dengan gue."
"Emang kenapa?"
"Dia perlu sebuah achievement, pencapaian, buat biar dia dilirik sama ibunya... yang udah jauh di Jerman, udah married lagi..."
"Jadi dia sekarang tinggal sama ibu tirinya?"
"Yes. Dan gue sebel banget waktu tau fact selanjutnya adalah, ternyata si ibu tiri ini baiknya setengah mati sama dia. Nggak ada tuh type dia kayak ibu tiri yang main potong-rebus sama anak tirinya, kayak di dongeng-dongeng. Sementara si Ronan ini ngeyel tetap berlaku buruk sama dia. Dan anehnya lagi, pilihan untuk tinggal sama ayah dan ibu tirinya ini dia juga yang bikin. Gue rasa gue capek sama anak nggak stabil kayak dia!"
"Tapi kayaknya sekarang lu dan dia baik-baik aja?"
"Kan dia lagi melakukan lobi politik supaya gue teteup nge-back up kepemimpinan dia. You know lah..."
"Kayaknya dia kok jadi nggak pede-an gitu?"
"Ya iyalah. If you know the next fact yang bikin gue tambah mual..."
Mata Nana membulat, penasaran.
"Apaan tuh, Ra?"
Aira menarik nafas panjang. "It's really unbelievable. Tapi ya gitu deh. Dia bilang ke gue, kalau sebelumnya alasan dia buat mencegah gue mundur, karena dia takut gue jadi oposisi, dan menggoyang kebijakan-kebijakan dia. Nah, dari situ aja udah keliatan dia lemah. Gak pede. Dan..."
"Apa, Ra?" Nana makin terlihat norak saat itu. Seperti wartawan infotainment yang sibuk nyari tahu kasus ManoharaJ.
Aira meremas iPodnya. Ngomong nggak ya? Orang si Wanda aja diomongin tadi pagi, ngucap-ngucapnya panjang banget.
"Na, kalau lu hidup di dalam sebuah keluarga yang hari gini masih mikir tentang bibit, bebet, dan bobot gimana?"
"Ya baguslah. Bukannya semua keluarga baik-baik begitu?"
"Kalau sampai mengatur dengan siapa elu married kelak?"
Hah? Mulut Nana langsung melongo.
Aira melengos bete. Yah, si Nana clueless lagih, lagih, dan lagih.
"Na, gue dan dia sudah dijanjikan kedua keluarga untuk ditunangkan suatu saat nanti..."
Mendadak mata Nana berbinar-binar bahagia. "Aduuuh, selamat ya, Raaa... Kamu harusnya happy dong?"
"Diam deh. Happy belah mananya, coba? Gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Dia juga. Kita sama-sama nggak tau hal ini sebelumnya dan baru dapet dari ayah kita masing-masing... Gue... belum bisa nerima hal ini..."
"Raaa, lu lihat sisi baiknya deh. Dan, h-hey, kalian kan bisa mencoba?"
"Mencoba pacaran, jadian menurut lu? Dodol! Naaa, gue udah bilang berkali-kali, gue nggak mau pacaran. Dengan alasan logis gue, dan dengan kesadaran penuh. Gue nggak mau terjebak dalam hubungan nggak jelas. Gue...yakin, semua akan ada waktunya. Termasuk soal nikah dan dengan siapa, dengan cara apa kita menikah nantinya."
"Aaargggh, malees. Lu udah ketularan Wandaaa..." erang Nana kecewa.
"Gue nggak ketularan siapa-siapa. Gue mengkajinya dari apa yang gue baca, dengar, dan amati.dan gue mudah-mudahan bisa konsisten dengan pilihan gue ini..."
"Setan ada dimana-mana lho, Ra. Bisa aja suatu saat kalian tergoda untuk pacaran?"
"InsyaAllah nggak, Na. Gue akan coba menyamakan persepsi dengan dia. Itulah. tadinya gue masih ada nafsu dendam buat ngebalas semua perlakuan dia ke gue. Tapi, gue harus menghargai keluarga gue yang berbesar harapan bahwa gue bakal mau sama dia. Gue... harus menghormati keluarga gue, orang tua gue, yang pantesan selalu nanya tentang dia. Meskipun gue nggak suka..."
"Jadi lu nerima?"
"Gue bilang sama orang tua gue, I'll think it later. Gue ngotot harus menyamakan persepsi dulu dengan dia. Gue harap dia bisa dipercaya... dan gue tambah pusing waktu tahu bahwa Radit sebenarnya juga udah tau hal ini dari Ronan. Keterlaluan! Pantesan, kok gue yang 'dikorbanin' harus masuk ke missi aneh ini? Urusan apa gue sama dia? Mau dia ada masalah apa kek, mau bunuh diri kek, lah gue kan bukan siapa-siapanya? Dodolnya Wanda juga nggak tahu. Dia juga sebenernya merasa, kenapa gue? Dia hanya dikasih clue awal bahwa ada hubungan saudara sangat jauuuuh banget antara gue dan Ronan, which is kemungkinan banget buat dijodohkan seperti layaknya kebiasaan keluarga-keluarga kebesaran gitu."
"Missi?"
"Ya. Missi buat mengembalikan pedenya dia. Buat mendukung kepengurusan dia di SC. Nana, lagi-lagi gue... merasa life is totally unfair to me..."
Sejujurnya, baru kali ini Nana menemukan kelelahan yang sangat di mata Aira. "Gue capek, Na..."
Dengan penuh simpati, Nana mengusap-usap punggung Aira. Apa nggak usah aja ya dia bicarakan perasaannya yang diam-diam baru mekar... terhadap Radit?
Di mushala, Wanda marah pada Radit, disaksikan si Widodo.
Dan satu rak di belakang rak tempat dimana ada meja Aira dan Nana, di deretan komik, ada sebuah meja dengan setumpuk komik Petruk Gareng dan Mimin. Ada seorang cowok ganteng sedang memijit-mijit kepalanya sendiri. Pusing.
Padahal sebelumnya ia sudah berniat banget mengirim sms ke Aira.
Ra, I believe my heart.
Saved it to draft.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar