WELCOME IN MY BLOG...

Kamis, 27 Agustus 2009

Home sweet Home ( Serial Exist 4 )

Dua anak muda sedang mendengarkan lagu yang sama di tempat yang berbeda. Gadis itu menekan tombol reply di Portable Disc nya. Lagu yang sama yang sudah terputar lima kali bolak-balik. Untung saja nggak kusut (emangnya kaset?). "Home" suaranya Michael Buble berkumandang lagi (dan lagi dan lagi...). Pandangannya menerawang ke langit-langit kamarnya yang tak terlalu luas. Kamar itu berwarna salem dengan isinya yang didominasi buku, VCD, DVD, CD, dan hasil-hasil kreativitasnya. Ada hasil sulaman kruisteek, ada hasil patchwork and quilting, origami dan kirigami, dan beberapa lukisan serta desain baju. Bagi yang belum tahu, sini saya jelaskan. Kruisteek itu adalah seni sulam-menyulam di atas kain berjela-jela yang namanya kain strimin. Patchwork dan Quilting adalah seni kerajinan dengan memanfaatkan kain perca. Origami adalah seni melipat kertas yang berasal dari Jepang. Kalau kirigami adalah seni menggunting kertas yang juga berasal dari Jepang. Balik ke si gadis lumayan cantik yang lagi melamun tadi. Oh, no, dia sama sekali tidak sedang jatuh cinta. Dia hanya sedang merenungi, kira-kira bener nggak sih dia harus terlibat sebegitu jauh dengan misi ini? Kalau mengingat betapa cowok itu mencela keluarganya, pingin rasanya dia menyumpal mulut cowok itu dengan kaus kaki anak bola yang udah nggak dicuci seminggu lamanya. Mungkin kurang. Ya, sekalian sama baju bekas anak-anak bola tanding! Biar pingsan abadi tu orang! Coba bayangkan apa yang ditulis cowok itu tentang keluarganya di inbox message facebooknya. Kalau bukan karena kamu yang pintar, kayaknya kamu nggak cocok jadi anak Exist. Mengingat keluargamu yang 'biasa banget', susah kan ya, buat kamu untuk menyesuaikan diri dengan anak-anak Exist? Ia menjawabnya dengan (sok) wise (padahal hatinya sakit bukan main): Baguslah kalau kamu mengakui aku pintar, tapi asal kamu tahu, aku tidak pernah malu punya keluarga yang 'biasa banget' buat ukuran anak Exist. Di luar sana, banyak anak yang tetap bangga meski orang tuanya tidak punya apa-apa. Yang penting kami selalu punya 'rumah' untuk pulang. Seorang penulis dari Inggris (sayang aku lupa namanya) pernah bilang: a house is built by hands, while a home is built by hearts. And we prefer have a home... home sweet home. Aku bangga sama keluargaku. Mereka yang membangun karakterku. Mereka yang membuatku selalu rindu pulang ke rumah, karena kehangatannya. Karena kehangatan cinta kasih merekalah, aku tak pernah berpikir untuk menjadi demikian popular hanya untuk cari perhatian. Merekalah yang membuatku punya fighting spirit dan kepercayaan diri. First of all, mereka mengajarkanku selalu kembali kepada Tuhan sehingga aku merasa aman dan nyaman. Btw, nggak apa-apa banget kok, kalau kamu nyesel ngangkat aku jadi sekretarismu. Asal kamu tahu, aku sama sekali nggak pernah punya niat untuk jadi makhluk terbeken di Exist. Sama seperti kamu, aku hanya sedang berpikir untuk mengisi masa remajaku dengan sebanyak mungkin hal yang challenging dan bermanfaat. Cognito ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada. Aku melakukan sesuatu, maka aku ada. Gadis itu, Aira, merasakan ada bening di sudut matanya. Bagaimanapun ia tak bisa menerima keluarganya dianggap sebagai 'nggak pantes nyekolahin anak di Exist'. Keluarganya adalah orang-orang yang punya kualitas,meski bukan orang yang kaya tujuh turunan. By the way, buat apa kaya tapi otaknya nggak ada? Kalau tidak ingat misi yang sedang ia pegang, ia sudah beneran mundur dari kepengurusan SC kali...
"Dia itu sebenarnya minderan, Ra. Lihat deh, matanya selalu terlihat gloomy. Dia malu karena sebagian kecil siswa Exist sudah tahu kalau ibunya adalah istri ketiga ayahnya yang pengusaha kaya itu", kata Wanda.
"Kamu suka gossip juga ya?"elak Aira kikuk. Males aja ngomongin musuh.
"Bukan. Ini adalah latar belakang kenapa misi ini harus tetap dijalankan, Neng. Dan aku sama sekali bukan tukang gossip. Aku tahu hal ini dari Radit. Dia itu masih saudara jauhnya si Ronan. Dan... ibunya yang sekarang itu adalah ibu tirinya, istri pertama bapaknya. Yang kelahiran Setu Babakan itu ya ibu yang sekarang. Ibu kandungnya sudah dicerai bapaknya. Nah, si Ronan sebenernya bete banget sama ibu tirinya ini. Dia memandang, asal usul si ibu tiri ini nggak sehebat si ibu kandungnya dia."
"Hah? Emang emak kandungnya orang mana?Suku Inuit? Atau suku Maori?"
"Ih, kamu sinis ya? Ibu kandungnya itu indo Jerman, Jawa-Jerman. Kata orang, cantiknya kayak Sophia Latjuba. Tahu Sophia Latjuba kan?"
"Berisik. Ya taulah! Hm... I just wondering why, kenapa sih ada anak yang mempersoalkan segala keturunan? Ada yang salah dengan keturunan Setu Babakan? Kan belum tentu juga si Setu Babakan lebih buruk daripada si Indo Jerman?"
"Nah tu dia.Si Ronan kan anaknya rada tinggi hati. Dia benci banget sama ibu tirinya yang menurut dia nggak elit dan nggak cocok jadi istri pengusaha. Padahal si ibu ini baik banget gitu sama dia. Udah kayak anak sendiri, tapi dasar dia aja yang belum terbuka matanya."
"Terus kenapa gue dilibatkan?"
"Karena kamu punya karakter buat bikin dia terlecut pedenya, buat ngedongkrak pedenya dia..."
"Hah? Emangnya kunci Inggris? Dodollll... gue dijadikan alat!"
"Bukan begitu, ra. Kamu dari segi otak, sama dengan dia. Jadi imbang gitu deh. Dan... " wanda seperti terlepas omong. Gesturnya jadi mendadak kikuk.
Aira tertegun."Dan apa, Nda?"
"Dan... ah, nggak. Bukan apa-apa... Oh ya, Ronan katanya punya sixth sense lho. Kata Radit ini sih..."
"Radit mollloooo... cape deeeh. Lagian apa hubungannya gue sama sixth sense nya si Ronan?"
Wanda jadi blushing, dan sedetik kemudian ngamuk-ngamuk nggak rela digodain begitu. "Heh, apa hubungannya gue sama sixth sensenya si Ronan?" desak Aira.
"Yaaa... nggak ada sih... iiih..." Wanda jadi bingung juga.
Di tempat yang lain, di sebuah kompleks perumahan mewah di utara Jakarta, seorang cowok sedang mendengarkan lagu yang sama di iPhone-nya. "Home". Padahal sebelumnya dia nggak terlalu suka Michael Buble, yang menurutnya agak terlalu opa-opa, dan gayanya Frank Sinatra abis. Tahu Frank Sinatra? Dia itu penyanyi legendaries Amerika, yang ngetop tahun 40-60an. Dia dikenang sampai kini, bahkan konon para personil band hari gini mengaku terinspirasi olehnya. By the way, cowok itu lebih suka Jamie Cullum ketimbang Mr. Buble. Tapi membaca balasan yang masuk di inbox message di facebooknya, ia menjadi mendadak ingin dengar lagu itu. Tentang rumah. Rumah hati, rumah jiwa. Home, not a house. Not only a luxury house. Rumah jiwa yang lama tak ia miliki. Rumah jiwa yang harusnya ada di dekatnya, namun terasa jauh. Dan gadis itu dengan sukses telah menyentilnya. Hatinya ngilu. Gadis itu menyentilnya tentang keluarga. Ya, kalau ada keluarga yang hangat dan menghangatkan, nggak perlu lagi teteriakan soal eksistensi di luar sana. Ronan, cowok itu,memutar kembali film di dalam benaknya. Perceraian memilukan itu. Status ibunya, yang meski cantik dan terpelajar, juga berasal dari keluarga elit, yang hanya istri ketiga. Lewat nikah sirri pula! Tamparan yang amat menyakitkan bagi dirinya yang baru beranjak remaja. Mendadak, saat itu, Ronan benci ibunya. Benci ketidaberdayaan perempuan yang ngakunya terpelajar itu untuk memperjuangkan sebuah pernikahan yang sah secara Negara. Itu sebabnya ia memilih ikut ayahnya. Di sisi lain, keputusannya itu mempertemukannya dengan ibu Edah, istri pertama ayahnya. Sang permaisuri di 'kerajaan' Hendratman Lukito. Yang berasal dari kampung, tapi istimewa. Ia tulus dan tanpa pretense. Ia dengan anggun memerangi perasaannya sendiri untuk menerima Ronan. Di rumah ini, Ronan mendadak merasa 'bukan siapa-siapa'. Ada dua kakaknya dari bu Edah, yaitu Kak Nilam dan Kak Sari. Meski bu Edah dan ayah tak sama sekali membedakannya, namun Ronan merasa terkepung dalam minder, marah, kecewa, dan sakit hati. Kalau saja ibunya bukan istri ketiga dengan pernikahan sirri. Kalau saja perceraian itu tak terjadi, lantaran ibu ngotot balik ke Bremerhaven di Jerman sono. Kalau saja istri pertama ayah bukan bu Edah. Tapi semua kalau saja menjadi tak ada gunanya. Ronan harus menerima kenyataan ini. Maka ia terseok-seok menatap masa depannya di Exist, yang sudah mengenalnya sebagai 'anak emas' keluarga Lukito sejak TK! Beruntunglah ia menemukan sepupu jauhnya, Radit di situ. Supremasinya terusik ketika di grade sepuluh, ada siswi baru bernama Khairani Prawiraningrat yang 'bukan siapa-siapa', dan langsung merebut perhatian seluruh Exist karena cerdas, aktif, dan supel. Tambahan lagi, karakternya sebagai remaja emang top banget. Dia sanggup bergaul dengan siapa saja, tapi tidak terlarut. Dan... dia pede abis. Sejujurnya, Ronan iri betul pada Aira. Iri berubah jadi dengki dan ingin menjatuhkannya. Selama ini, dia selalu menjadi sosok pujaan meski dia cenderung bersikap tertutup. Tapi mendadak posisinya tergeser oleh Aira. Rasa negatif itu entah kenapa makin bertambah. Apalagi setelah ayah berbicara padanya tentang suatu hal. Yang amat menyakitkan. Dan menyebalkan juga. Jadi, apa yang harus ia lakukan sekarang? Ronan manyun waktu menyadari, kenapa juga dia jadi mikirin banget si Aira rese itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar