WELCOME IN MY BLOG...

Kamis, 27 Agustus 2009

Being Me? Oh, Ada Masalah? ( Serial Exist 3 )

You are nothing till everybody loves your characters
Emang bener deh, susah sebangku sama anak cewek berisik bin rese modelnya si Aira. Bodohnya lagi, aku terlalu baik ya, mengangkat dia jadi sekretarisku di kepengurusan Student Club. Hahaha, nggak tau ada setan baik apa yang mendadak menempel di kepalaku saat itu. Mestinya aku biarkan saja ya dia kalah dan jadi pecundang. Hehehe. Kau pecundang, SpongeBob, seperti kata Squidward Tentacles di film kartun SpongeBob Squarepants.
Tapi dorongan tim suksesku, terutama Radit, saat itu amatlah keras. Mungkin, Radit memang benar naksir Wanda, seperti gossip yang santer dibicarakan. Makanya dia berusaha menyatukan kubu-ku dan kubu Aira (dimana di situ ada Wanda). Si Ustad kagetan itu juga yang memaksaku untuk menempatkan Aira sebagai salah satu think tank kepengurusan SC tahun ini. Iya sih, Aira emang pinter BANGET. Bahkan kuakui olok-olokku atas kemampuan fisikanya yang payah juga nggak terlalu terbukti. Karena anak itu kayaknya kalau mau ulangan, bela-belain nelen buku pelajaran kali. Soalnya aku perhatikan makin lama, otaknya makin kinclong aja.
Gawat nih, kalau begitu. Bisa-bisa aku yang nanti malah jadi pecundang di akhir semester tiga ini. Kalah dari Aira? Huh, dosa yang tak termaafkan dari seorang Ronan Lukito! Nggak sudi!
Yang bikin aku bete adalah kepercayaan dirinya yang selangit. Aura pedenya yang kayaknya nggak abis-abis itu juga bahkan selalu sukses menulariku hari ke hari. Dia tampak carefree dan apa adanya. Menikmati hidup, menertawai kegagalan, hingga mengekspresikan perasaannya. Jujur, aku iri dan TERAMAT IRI. Mau rasanya aku menukar karakternya yang pede itu dengan apa saja yang kumiliki, agar aku juga bisa seperti dia.
Padahal siapa sih dia?
Keluarga Prawiraningrat memang keluarga bangsawan dan kakeknya mantan pejabat zaman dulu. Konon, keluarganya emang sudah dari kaya dari sononya. Tapi itu dulu. Dan harusnya mereka bisa lebih kaya dari itu. Tapi kakeknya terlalu jujur untuk ukuran pejabat setingkat dirjen. Tambahan lagi, beberapa perusahaan keluarga mereka juga enggan 'berkompetisi', so they lost their old money. Sekarang, mereka hanya keluarga 'orang kebanyakan',
Aira sendiri nampak tak terpengaruh apa-apa dengan kehidupan keluarganya yang jelas-jelas downgrading banget. Malah sesekali dia hanya naik bus atau dijemput kakaknya yang sudah kuliah, naik si pink jelek itu. Dia nggak branded, nggak suka muncul di pesta-pesta sejenis birthday bash di club-club yang lagi happening sekarang, atau sekedar hang out. Dia type remaja biasa banget yang lebih suka menghabiskan waktunya di Gramedia, QB, Times, Kinokuniya, Aksara, atau Zoe... for your info, dia terlalu gila buku dan nonton DVD. Dia lebih suka nongkrong di Dunkin, JCo, Krispy Kreme, atau sesekali di Coffee Bean, Brew&Co, Sour Sally, Dairy Queen, dan Quickly, ketimbang leyeh-leyeh di The Sultan atau Four Seasons (meski sekedar ngopi di cafenya). Biasa banget kan? Dan, gini hari masih dengan norak janjian makan ice cone di AW atau McD dengan geng berisiknya itu? Huhuhuw, dia terlalu BIASA untuk jadi cewek ngetop di EXIST.
Mau tahu tempat favoritnya yang lain?
Pasar mayestik (tempat dia berburu cetakan kue dan segala alat menyulamnya... gini hari masak dan nyulam? Nenek-nenek banget kaliiiJ), perpustakaan, museum, gedung kesenian Jakarta, dan TIM. Freaky banget kan? Yang agak lumayan ya, DiscTarra aja kali.
Tapi dia TETEUP LEBIH POPULER DAN MEMBUMI di Exist ketimbang gue! Lalu apa dosa gue sebenarnya sih?
It's OK, aku sudah jadi President di sini. Tapi lihat dong, di depan mata kepalaku sendiri, dia tampak lebih bisa berdekat-dekat dengan hampir semua pengurus ekskul di sini. Sedangkan aku?

"Ra, gue masukin program Save the Earth dong buat tema Pensi kita taun ini," usul Nendya, ketua Mading. Ini cewek emang go green banget deh.
"Ra, usul juga. Gimana kalau kita ngundang Hijau Daun, sekalian sama Efek Rumah Kaca dan Everybody Loves Irene untuk Pensi taun ini?" usul Jockey, si ketua Band.
"Jangan, Ra. Musiknya anomaly buat kuping gue. Peterpan aja. Gue kan fansnya Ariel. Kalo Hijau Daun sih boleh. Kan musiknya mirip tuh sama Peterpan, suara vocalisnya juga, " usul Rena, si Luna-Maya-replika.
"Ih, jijay. Sekalian aja lu ngundang Luna Maya gitu. Dasar fansnya Ariel lu! Nggak malu ya saingan sama Luna Maya?" selak Jockey dengan muka sebal,
"Hah, lu mah pantesnya ngundang Mbah Surip sama Kuburan Band aja kaleee," cibir Rosa, sesama fansnya boysband.
Aira dengan santai mencoret-coret usulan itu dengan pulpen Rapidonya di tangan kanan, sementara notesnya diletakkan di meja kami. Tangan kirinya masih memegang gelas Styrofoam berisi hot latte dari Uwak Café. Santai dan tanpa beban.
"OK, udah gue tulis semua, guys. Termasuk soal mbah Surip dan Kuburan Band juga. Gue malah mau usul ngundang Tangga juga," jawab Aira sambil terus nulis sambil ngopi.
"Hah? Serius lu?" Tanya Jockey melongok notes Aira.
"Yang mana? Tangga? Lu suka juga ya?"
"Bukan. Yang Mbah Surip sama Kuburan Band?"
"Kalau lu pada suka, ya nggak apa-apa dong..."
Aku mencibir kesal. Aku dianggap hantu, kali. Heh, DODOL, PRESIDENNYA ITU GUE, BUKAN DIA!
Sial! Aku makin jealous saja melihat dia seenak jidatnya tebar pesona gitu. Besok-besok, jangan-jangan dia kudeta lagi!
Tiba-tiba aku merasa gerah. Jangan-jangan anak ini pakai guna-guna ya? Supaya dia lebih kelihatan dari aku? Supaya dia bisa seenaknya mempercundangi aku gitu? Hih!
Aku hendak beranjak bangkit, sewaktu dia menoleh ke arahku dengan matanya yang (sok) sepolos kelinci.
"Lho, lho, kamu mau kemana, Ronan? Kan rapat Pensi belum selesai?" tanyanya heran.
Aku mendengus kesal. Tatap mata heran juga kubaca jelas dari teman-teman yang masih mengitari meja kami.
"Mau buang pusing. Kamu lanjutkan aja rapatnya, nanti hasilnya lapor ke aku!"
"E-eh, ya nggak bisa gitu dong. Kamu suka lepas tanggung jawab gitu sih!" Nah, nah, Nenek sihir mulai mengomel.
"Gue eneg, denger segala Mbah Surip dibahas!"
"Ya terus kamu maunya siapa? Mau ngundang Michael Jackson kan tinggal hantunya? Mau ngundang U2, Maroon Five, atau Rihanna?"
"Mau ngundang He Ah Lee disuruh duet sama Maylaffayza, yang nyanyi Gita Gutawa! Atau sekalian ngundang Sarah Brightman sama Andrea Bocelli. Puas?"
"Bagus! Selera kita sama. Kalau gitu, mau kamu ngusahain menghubungi mereka?"
Dasar to**l!
"Lu bisa serius nggak sih ngurus beginian? Jangan bisa lu hanya ribut doing deh!"
Dia kontan berdiri, sementara temen-temen yang lain nampak mulai bete dengan kebiasaan lama kami yang nggak bisa hilang; nafsu saling mengalahkan! "Nah, kamu sendiri dari tadi ngapain? Ngelamun nggak jelas kayak orang patah hati! President apaan kamu?"
"Kamu diam! Kamu hanya sekretaris. Itu juga kebaikan gue yang ngangkat elu yang tadinya pecundang dan BUKAN SIAPA-SIAPA! Makanya jangan belagu!" Amarahku memuncak lagi. Heran deh, nggak bisa ya dia membiarkan aku sebentar saja nggak pingin menamparnya?
Sekarang kami sudah bertatapan sengit.
"Bagus! Aku emang bukan siapa-siapa dan nggak pernah pingin jadi siapa pun di sini. Gue ya gue. Aira ya Aira. Dan asal kamu tahu ya, aku nggak pernah mengemis sama kamu buat diikutkan di kepengurusan ini! KERJASAMA KITA SELESAI, Mr. Sombong!"
Mata kami saling memancarkan bara. Tanganku sudah terkepal pingin menampar mulutnya yang gede omong itu.
"Ada masalah?" tantangnya nekad.
"Ya. Masalah besar. Masalah gue adalah KAMU!"
"Ada apa lagi? Kan aku udah mundur. Silakan angkat sekretaris baru. Bye!" Dia berbalik dengan mata yang ... riang. Luar biasa!
"Nah, guys, gue bebas tugas. Ihiyyy, ayo, Ren, kita katanya mau beli ice cone di McD Pasaraya. Yuk, sekarang. Yang lain, silakan lanjutkan rapat sama Ronan ya? Yuuuuk..." Dengan ceria dia menggamit lengan Rena, salah satu dayang-dayangnya yang nampak masih shock (seperti juga anak-anak lain) dan jadi kelihatan tolol.
Perlahan, kurasakan ada yang melorot dan meluruh di hati; percaya diriku. Satu kelemahan terbesarku...


Selesai Rapat

"Dit, lihat Aira?" bisikku pada Radit yang masih sibuk di mushala, merapikan Quran yang agak berantakan.
"Hah? Tumben ente..." jawabnya dengan lagak menyebalkan.Mengapa hari ini semua orang jadi tampak menyebalkan di mataku sih?
"Emang kamu nggak denger kita berantem lagi gara-gara rapat Pensi tadi?"
"Denger sih. Wanda yang cerita..."
"Jieee. Udah rukun ya sama Wanda?"
"Hahaha. Yang galak kan dia. Ane mah nyantai. Lagian, masak sama partner kerja nggak bisa rukun sih?"
"Partner kerja? Ngomong lu udah kayak pejabat aja. Lagian... eh, lu nyindir gue ya?"
Radit menoleh. Bengong. Kacamatanya sedikit melorot. Kalau sudah begini, dia jadi mirip Harry Potter disamber geledek.
"Nyindir apaan? Kayaknya ente konslet nih. "
"Brisik lu, kayak cewek. Udah, sekarang lu ikut gue!"
"Kemana? Lagian ente dah shalat belum?"
Aku melirik jam tangan Swiss Army-ku. "Shalat apaan? Kan tadi gue zuhur sama elu. Ashar masih lima belas menit lagi. Emangnya lu tugas ngazan lagi ya?"
Radit ketawa malu. Dia emang suka lupa gitu.
"Ikut gue ke McD Pasaraya sekarang ya?"
Radit kontan melotot."Hah? Ente mau ngebuntutin Aira ya? Ckck ck... kayaknya ente mulai kena virus merah jambu nih... pake ngebuntutin segala.Ogah ah ane!"
"Heh, virus merah jambu bapak lu! Gue..."
Tiba-tiba tenggorokanku tersendat. Aku... merasa akan ada yang timpang tanpa dia. Tanpa Aira di kepengurusan SC ini. Tadinya, alasanku memilih dia sebagai sekretaris adalah karena aku... butuh dia untuk latihan mendongjkrak rasa pedeku yang hancur sejak peristiwa kelam itu. Lagipula, dia memang bagus kerjanya. Jadi... mungkin aku harus menyelesaikan semuanya...
Sambil memakai sepatu hingga ke tempat parker, aku bercerita lamat-lamat pada Radit. Dia manggut-manggut seperti burung pelatuk mendengarkanku bercerita. Sesekali dia menyela dengan gaya bercandanya yang kadang jayus. Tapi entah mengapa, aku menganggap Radit adalah orang yang paling pas buat jadi sahabat terdekatku.

McD Pasaraya

Nah, tuh dia gerombolan si Aira. Semua sudah ganti seragam dengan baju main rupanya. Sama denganku dan Radit. Itu Aira dengan aura Queen Bee nya yang terpancar jelas.

Suatu saat, sewaktu kami lagi naik-baik saja, kami, aku dan Aira, pernah terlibat percakapan ini di ruang secretariat SC.
"Aku nggak suka banget deh sama tuh cewek," tiba-tiba Aira menggumam sambil menunjuk kea rah luar dengan matanya. Aku yang sedang buka-buka facebook melihat dengan malas.
"Oh, si Evi-Evi ini yang dulu ngegencet kamu ya?"
"He-eh. Lagaknya kayak dia yang paling Queen Bee gitu."
"Apa? Ratu Lebah?"
"Iya. Queen Bee itu istilah gitu lho, Ron. Kamu tahu nggak, seekor ratu lebah setiap selesai bersalin, pasti berteriak memanggil para tentaranya. Nah kalau ada lebah cewek yang sama-sama lagi bersalin sama dia, trus ikutan teteriakan, itu alamat si lebah cewek itu bakal menemukan ajalnya di tangan si ratu lebah."
"Hah? Sadis amat?"
"Ya gitu deh. Untung kamu bukan dilahirkan sebagai cewek ya. Hamper sebagian cewek punya naluri Queen Bee. Jujur, aku juga. Nggak boleh lihat ada yang lebih gimanaaa gitu..."
"Paham deh kalau kamu mah..."
"Eh, Dodol, aku sih suka kumat Queen Bee-ku kalau sama kamu!"
"Kok? Aku kan cowok dan bukan lebah pula!"
"Karena kamu selalu nggak mau kalah sama aku."
"Kamu juga!"
"Atau... kita emang akan gini terus kali ya, Ron?"
"Ya... terserah kamu lah. Kamu juga jadi cewek kepedean sih."
"Emang kenapa? Ada masalah?"
Saat itu aku hanya tersenyum. Sesuatu yang amat jarang kulakukan padanya. Dan dia memang agak kaget. Buru-buru dia memalingkan wajahnya.
"Nggak, ra. Nggak ada masalah. Jujur, kadang gue iri sama kamu."
Dia menoleh lagi."Iri? Sama gue? Kok bisa? Nggak penting banget sih!"
"Ah, nggak. Nggak apa-apa. Ya udahlah, jangan gegencetan lagi aja sama dia ya? Bikin malu SC aja," ujarku mengalihkan perhatian.
Dia tertawa lepas. "Ya enggaklah, masak ya enggak dong! Kan hanya nggak suka aja. Nggak lah. Aku nggak segila itu kali. Ngapain sih gegencetan? Memangnya nggak bisa ya kompetisi otak dan prestasi kayak kita?"
Nyess. Saat itu ada yang melumer di hatiku. Kompetisi otak dan prestasi? Serius? Dan dia menyukai itu?
Beneran. Nih cewek unik banget.
Mendadak ada setitik rasa di sini, aku suka pada gaya dia menyikapi persoalan. Lempeng banget. Tanpa beban. Berbanding terbalik denganku...

"Hoiiii!" Radit melambai-lambaikan tangannya di depan mataku yang bengong. Aku kontan tergeragap. Haduuuh, malah ngelamuni Aira lagi.
"Katanya mau ke McD? Ini udah di McD, terus kita mau ngapain?"
Aku tersadar. Segera kutarik Radit ke meja pemesanan. Kami melewati meja Aira yang lagi bareng Wanda dan Rena sambil ngobrol seru. Aku tahu mereka melihat kami, tapi aku cuek, berusaha cuek tepatnya. Mereka langsung menghentikan obrolan begitu melihat kami.
Aku memesan tiga cone ice cream dan tiga gelas ice lemon tea. Si radit berbisik, "Ane nggak suka McD, Bro, sebenernya. Tapi kalo ditraktir ya gak apa-apa banget!"
Menyebalkan!
Satu cone ice cream dan segelas lemon tea kuberikan pada Radit yang tersenyum berterima kasih. Aku lalu menuju meja AIra.
Aduh, kemana rasa pede yang sudah kubangun tadi?
Ra, please, jangan melongo begitu. Lihatlah kedua temanmu siap bergosip tentang kita. AYo, lakukan sesuatu...
Bismillah...
"Ra, gue mau ... kamu jangan mundur..."
Aduh, kok langsung sih?
Aira bengong. Tak siap juga tampaknya.
"Gue... tau Aira bagus kerjanya... So, ... just stay..."
Satu cone ice cream dan segelas lemon tea kuberikan padanya. Dia menerimanya dnegan bengong, sementara kedua temannya saling bertukar isyarat.
"B-buat aku?"
"Iyalah..."
"... Masak iya dong! Raaaa... so sweeeeet..." Rena mengacaukan suasana. Siaaal! Wanda dan Radit malah juga saling bertukar isyarat.
H-hey, aku kan bukan meminta Aira menikah denganku, jadi jangan lebay lah. Kepikiran buat jatuh cinta sama dia aja enggak. Jauuuh.
"Thanks... tumben..."
"Tapi kamu nggak bisa mundur lagi, Ra."
Aira yang sudah hendak menjilati es krimnya, terkejut.
"Kamu ngatur aku ya? Nggak!"
"Oh, kamu emang keras kepala ya?"
"Eh, aku nggak bisa dosogok es krim ya? Dasar rese!"
"OK, balikin aja es krimnya!"
Dengan santai dia menjilati es krimnya lalu memberikannya kembali padaku. Idih!
"Nih! Udah rese, itungan lagi!"
"AAARGGGH! STOOOOP!" Rena, Wanda, dan Radit berteriak kesal melihat kami siap bertengkar lagi.
Dasar Queen Bee!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar